Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengakui kesulitan terhadap penyelundupan narkoba melalui jalur perairan laut. Sebab, pihaknya mempunyai kendala jumlah kapal patroli yang kurang memadai untuk menjaga perairan laut."Kita kan negara kepulauan, kapalnya enggak cukup mencegat kapal yang menyelundupkan narkoba melalui akses laut," kata Ade usai acara kerja sama TNI dan BNN di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (13/5).Untuk mencegah penyelundupan narkoba di perairan laut, kata dia, harus mempunyai sejumlah 500 kapal patroli. Karena, wilayah perairan laut merupakan titik rawan penyelundupan narkoba."Negara kita tuh rawan kok, mau dari mana Sumatera rawan dari utara India, Thailand, Filipina itu larinya Sumatera Barat. Kepulauan Riau banyak masuk dari Vietnam dan Singapura, dari natuna sendiri pulau-pulaunya banyak. Yang paling bagus kita pageri butuh kapal bayak. Kita pageri setiap 20 mil," ujarnya.Menurut dia, modus operasi penyelundupan narkoba menggunakan kapan nelayan atau kargo untuk bisa masuk perairan wilayah Indonesia. "Kami rencana proyek pengajuan kapal patroli 44. Lagi pula kami tergantung nanti operasi di laut dan tergantung bahan bakar dan pola operasi operasi intelijen harus bagus," ungkapnya.Menutupi kekurangan kapal tersebut, kata dia, membutuhkan bantuan intelijen dalam laporan kapal asing yang masuk perairan wilayah Indonesia. Selain itu, kerja sama dengan lembaga pemerintah terkait kelautan Indonesia."Makanya butuh bantuan intelijen di mana kapal yang akan masuk. Kerja sama BBN dan polisi serta kementerian kelautan dan perikanan, imigrasi dan perhubungan laut harus kuat," tutupnya.
Kapal patroli kurang, TNI AL sulit cegah penyelundupan narkoba
"Dari natuna sendiri pulau-pulaunya banyak. Yang paling bagus kita pageri butuh kapal bayak. Kita pageri setiap 20 mil."
Advertisement
Rekomendasi