Aksi Sebastian bakar diri dinilai tiru pahlawan buruh Korea

"Chun Tae-il membakar dirinya sampai mati, agar nasib buruh Korea berubah menjadi lebih manusiawi."

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aksi Sebastian bakar diri dinilai tiru pahlawan buruh Korea
Sebastian. ©2015 Merdeka.com

Sejumlah elemen buruh di Kabupaten Bekasi, kemarin malam menyalakan seribu lilin di Omah Buruh, Kawasan Industri Ejip, Cikarang. Aksi itu untuk mengenang pengobaran Sebastian Amnuputi, buruh yang bakar diri di Senayan, Jakarta saat memperingati May Day.Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Nyumarno mengatakan, bahwa perjuangan Sebastian mirip dengan perjuangan tokoh buruh asal Korea Selatan, Chun Tae-il. Dimana, pada 13 November 1970, tukang potong pakaian di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan melakukan aksi bakar diri."Chun Tae-il membakar dirinya sampai mati, agar nasib buruh Korea berubah menjadi lebih manusiawi," kata wakil rakyat yang juga mantan buruh ini, Minggu (3/5).Menurut dia, aksi Chun Tae-il langsung mengguncang semenanjung Korea, bahkan seantero dunia. Sebabnya, buruh melarat itu meninggal. Pesannya, ia protes karena buruh adalah manusia yang sama halnya dengan yang lain.Kala itu, buruh di sana menderita miskin, sakit, kurang pendidikan. Bekerja selama 16 jam, mereka diperas tanpa rasa malu oleh para pengusaha. "Ini yang dilakukan oleh Sebastian, dia berusaha membuka mata, telinga, hati, seluruh penguasa di negeri ini," katanya.Tujuannya, kata dia, ialah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sama halnya, dalam pesan yang ditulis melalui status akun facebookny. Yaitu, 'Semampu ku kan berbuat apapun agar anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA'.Sebelumnya, Ketua Bidang Organisasi FSPMI, Obon Tabroni mengatakan, status itu diduga kuat ada kaitannya dengan aktivitasnya di tempat kerja Sebastian, yaitu PT Tirta Alam Segar, di mana di perusahaan itu sering terjadi kecelakaan kerja. "Dia sering mengadvokasi korban untuk mendapatkan hak dari perusahaan," katanya, Sabtu (2/5)Namun kata dia, upayanya sering gagal. Misalnya, kasus yang menimpa seorang buruh bernama Topan. Temannya itu harus cacat karena kecelakaan di bagian produksi. Kebutuhan biaya sebesar Rp 67 juta.Meski sudah ada BPJS, namun sebagian biaya ditanggung sendiri. Pasca-korban sembuh, temannya itu dimutasi ke cleaning servis, statusnya pun tak dinaikkan, dan masih kontrak. "Dia frustasi karena di pabriknya banyak kecelakaan kerja," kata dia.

Rekomendasi