Sebuah foto menampilkan tujuh pemuda bersikap tak senonoh di kawasan Tugu Yogyakarta tersebar di media sosial Facebook, pada Rabu (29/4). Enam orang di antaranya terlihat sumringah sambil menurunkan celana mereka sehingga hanya terlihat celana dalamnya.Foto itu dinilai melecehkan simbol kota Yogyakarta dan cepat sekali menyebar di media sosial. Gambar itu langsung menuai komentar pedas dari para warga dunia maya. Mereka menilai perbuatan para pemuda itu melecehkan kebudayaan leluhur."Ono sik reti wong-wong aneh iki ra? Nglecehke Jogja tenan ki. Kudu diusir po dikasuske yo? (Ada yang tahu orang-orang aneh ini? Sangat melecehkan Jogja. Harus diusir atau dikasuskan?)," komentar seseorang bernama Yanuar Rizky Pramusesa."Astaghfirullah. Melecehkan banget," tambah Annie Nugraha.Foto menampilkan tujuh pemuda itu rupanya diunggah sejak setahun lalu. Berdasarkan penelusuran merdeka.com, foto itu diunggah pada 22 Maret 2014.Dalam foto tersebut ditautkan lima nama pengguna Facebook, yaitu Eris Setiyawan, Rhino Sudrajat, Ary Southsquad, Farah Khoirunnisa Fatimah dan Hasbi Warga Waluyo. Meski beberapa netizen mengecam foto itu, tapi lainnya meminta foto itu tidak disebarkan karena bisa menghasut dan memancing amarah warga Yogyakarta.
Advertisement
Salah satunya ditulis akun Facebook Maryanto Cynk Dinda. Dia meminta para netizen menghentikan penyebaran foto itu karena orang-orang yang ada di dalam gambar sudah memberikan penjelasan dan meminta maaf."Sampun nggih mas mbak sedoyo (sudah ya mas mbak semua) yang bersangkutan sudah berbesar hati memberikan penjelasan.. Saya juga bukan mau membela, cuma foto itu udah setahun lebih koq ya baru sekarang pada ribut," komentarnya.Markus Yuwono, warga Gunungkidul mengaku tidak mengambil hati foto tersebut. Menurut dia, foto itu hanya bentuk kenakalan anak muda yang ingin menunjukkan eksistensinya."Anak muda biasalah seruan-seruan begitu, enggak lah kalau itu melecehkan Yogyakarta," tulis Markus.Meski demikian dia menyesalkan perbuatan para anak muda di foto tersebut. Baginya hal tersebut tidak sesuai dengan norma di Indonesia."Tapi itu saru, kita kan orang timur enggak seharusnya begitu, semoga tidak terulang lagi," tambah Markus.
Advertisement
Tugu Yogyakarta mempunyai nilai simbolis tinggi bagi warga setempat. Sebab, diyakini bangunan itu merupakan garis bersifat magis menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.Tugu ini dibangun pertama kali pada 1755, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pada saat awal, bentuk Tugu Yogya tidak seperti saat ini. Tingginya pertama dibangun mencapai 25 meter dan dinamakan Tugu Golong-Gilig. Nama itu melekat sebab tiangnya tugu berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat). Bangunan itu menggambarkan semangat Manunggaling Kawula Gusti, yakni persatuan rakyat dan penguasa melawan penjajahan.Namun, kondisi itu berubah total pada 10 Juni 1867. Sebab saat itu terjadi bencana alam gempa bumi mengguncang Yogyakarta. Akibatnya tugu itu runtuh.Tugu itu direnovasi pada 1889. Meski begitu, perbaikannya malah menjadikan bentuk tugu jauh berbeda dari asalnya. Sebab, saat itu yang mengerjakan renovasi adalah pemerintah Hindia-Belanda.Tugu itu akhirnya dibangun dengan bentuk persegi, dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tapi berbentuk kerucut, mirip tanduk satwa fiksi, Unicorn. Ketinggian tugu pun melorot menjadi tinggal 15 meter. Sejak saat itulah, tugu ini disebut sebagai De White Paal atau Tugu Putih.Perombakan bangunan tugu, katanya, sebenarnya merupakan taktik Belanda buat mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Meski begitu, di tugu itu melekat simbol-simbol suci kaum Yahudi. Ada dua buah lambang Bintang Daud di badan Tugu. Tanduk Unicorn di ujung tugu juga dianggap perlambang organisasi rahasia kaum Yahudi, Persaudaraan Ular. Meski begitu, bukan berarti tanda-tanda itu menjadikan Tugu Yogyakarta terlarang.