Sebuah pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis (16/4) pagi. Peristiwa ini terjadi di saat Presiden Joko Widodo sedang menerima baret kehormatan dari pasukan khusus TNI di Mabes Cilangkap.Pesawat yang terbakar itu merupakan pesawat hibah dari Amerika Serikat yang telah diupgrade. Sebelum mengalami kebakaran, pesawat itu akan menjalani latihan pengamanan udara di bawah koordinasi Kohanudnas dalam rangka persiapan Konferensi Asia Afrika.Pesawat itu juga seharusnya mengikuti terbang lintas atau fly pass bersama beberapa pesawat lainnya dalam rangka acara penyematan baret terhadap Presiden Jokowi.Apa saja fakta di balik terbakarnya pesawat F-16 itu? Berikut rangkumannya:
Advertisement
Peristiwa terbakarnya pesawat F-16 TNI AU bermula saat pesawat itu hendak take off. Saat melakukan rolling di landasan, salah satu mesin mengalami trouble.Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna menjelaskan, pesawat itu akan melakukan latihan rutin. "Itu dari blok 25, pada saat rolling terjadi engine fire. Penerbang langsung keluar terjadi kebakaran. Alhamdulillah di runway, tidak apa-apa, pilot juga," tambahnya.Roda kiri pesawat copot dan menimbulkan gesekan sehingga ada percikan api. Api kemudian berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran Lanud Halim.
Advertisement
Pesawat F-16 TNI AU yang terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta dipiloti Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono. Letkol Firman dikenal sebagai pilot berpengalaman. Dia sudah mencatat rekor lebih dari 2.000 jam terbang dengan F-16 beberapa waktu lalu. Nama panggilannya adalah 'Foxhound'.Ayah tiga anak tersebut, merupakan alumnus AAU tahun 1996. Begitu lulus Sekolah Penerbang angkatan 56 tahun 1998, Letkol Pnb Firman yang lahir di Surabaya 39 tahun yang lalu, langsung menjadi penerbang tempur di Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi.Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna juga menyebut Firman sebagai pilot yang berprestasi. Dia mengenal baik sosok Firman sebagai muridnya sendiri."Firman itu murid saya. Pada saat itu saya komandan skuadronnya. Profilnya itu kedua terbaik," kata Marsekal Agus, Kamis (16/4).Saat ini Firman sedang dirawat di RS Halim. Pilot tersebut sudah mendapatkan perawatan. Kasau menyebut Firman hanya mengalami luka bakar di tangan. "Kalau mau jenguk sama-sama ayo," ajak Kasau.
Advertisement
Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna menjelaskan, pesawat yang terbakar itu hibah dari Amerika Serikat dan produksi tahun 1980. Biasanya, pesawat tersebut dipakai untuk berlatih pertahanan udara."Itu pesawat memang untuk melaksanakan latihan rutin operasi udara. F-16 ini pesawat yang baru datang hibah dari Amerika," kata Agus di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (16/4).Proses hibah F-16 bekas dari Amerika ini sempat menuai pro dan kontra. Pada awalnya Pemerintah Indonesia ingin membeli 6 unit F-16 Block 52 baru dengan dana sekitar 430 juta dolar untuk melengkapi 10 unit pesawat tempur F-16 Block 15 OCU yang telah dimiliki sebelumnya.Di tengah jalan, ada tawaran cukup menggiurkan di mana Amerika menawarkan hibah 24 unit airframe pesawat tempur F-16 block 25 bekas yang sudah tidak operasional dan sudah disimpan di AMARG (fasilitas penyimpanan pesawat tempur non aktif Amerika).Hibah 24 unit F-16 Block 25 bekas plus 4 unit F-16 Block 25 dan 2 F-16 block 15 semuanya gratis. Namun, 24 unit F-16 ini harus di upgrade dari standard block 25 menjadi setara dengan F-16 block 32 dengan biaya upgrade yang sama dengan anggaran sebelumnya yaitu sekitar 430 juta dolar.Namun belakangan, opsi upgrade yang sebelumnya hanya direncanakan untuk setara block 32 dinaikkan menjadi setara block 52 dengan kenaikan dana upgrade menjadi sekitar USD 700 juta. Keputusan finalnya menjadi hibah plus upgrade 24 unit F-16 setara Block 52. Jadi walaupun namanya hibah tetap saja dana yang dikeluarkan tak kecil.Pihak AS mengklaim upgrade ini akan membuat pesawat buatan tahun 1980 tersebut tampil optimal lagi. Indonesia pun tergiur.
Advertisement
Berkaca dari kasus terbakarnya pesawat F-16 sebelum terbang landas di Lanud Halim Perdanakusuma tadi pagi, TNI AUÂ tidak akan mengoperasikan pesawat F-16 terbaru yang dihibahkan dari Amerika Serikat. Tindakan ini dilakukan hingga proses penyelidikan selesai dilakukan."Sisa pesawat baru ini akan off dulu untuk penyelidikan," ungkap Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Agus Supriatna dalam konferensi pers di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (16/4).Dia menjelaskan, awalnya seluruh pesawat F-16 ini sebetulnya akan ditugasi untuk melakukan pengamanan selama berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung. Sebagai gantinya, TNI AU akan menggunakan F-16 yang berada di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.
Advertisement
Kasau mengaku proses pembelian pesawat tempur baru untuk menggantikan F-5 Tiger tidak akan digantikan oleh pesawat bekas. Dari hasil kajian, TNI AU berencana menggantinya dengan Sukhoi Su-35 atau F-16 Fighting Falcon tipe 70."Tipe 70 itu baru. Jangan lagi beli F-16 yang bekas," ucapnya.Agus mengatakan, ke depan pihaknya akan mengkaji lebih cerdas sebelum menerima alutsista yang merupakan hibah dari negara asing."Ini pelajaran buat kita semua kalau mau beli pesawat lebih baik yang baru jangan hibah. Kita akan kaji, evaluasi, saya ini penerbang F-16 dan ini baru pertama kali," kata Agus.Dia juga memastikan insiden ini tak mengganggu pelaksanaan pengamanan kegiatan KAA yang akan berlangsung pekan depan."Kita masih punya Sukhoi. Jadi sekali lagi ini pesawat latihan untuk operasi udara pengamanan operasi rutin. Ini saya mau kesana untuk melihat apa sebenarnya terjadi," pungkasnya.