Bekerja di daerah yang bermedan sulit adalah tantangan tersendiri bagi Brigjen Pol Arief Sulistyanto selaku Kapolda Kalimantan Barat. Bak di film laga, ada satu peristiwa yang membuat polisi harus bersusah payah membelah hutan dan mengorbankan anggotanya demi menangkap penjahat.Cerita itu dituangkan oleh Spripim Polda Kalbar Sumarni Guntur Rahayu dalam buku 'Salam Zero Revolusi Mental Mencetak Polisi Profesional Antikorupsi'. Peristiwa heroik ini bermula dari tewasnya 18 penambang emas tanpa izin atau PETI akibat longsor di Desa Sagatani, Singkawang Selatan, Singkawang, Kalimantan Barat pada Oktober tahun lalu."Beratnya medan yang harus dihadapi dalam upaya penertiban PETI menjadi suatu kendala tersendiri selain adanya perlawanan dari para pekerja PETI. Beberapa lokasi PETI berada di tengah hutan dengan jalan sulit dilalui," seperti dikutip dalam buku tersebut, Kamis (2/1).Tindakan tersebut berujung maut, anggota Reskrim Polres Landak gugur dalam tugas. Bukan hanya penertiban penambang ini membuat pekerja tambang marah sampai mobil operasional Polri dibakar.Dari sini Arief mengubah konstruksi hukum, polisi tidak lagi mengejar para penambang, melainkan pemodal dan penadah hasil PETI tersebut. Konstruksi hukum seperti itu akhirnya mampu menjerat pemilik lahan dan modal sampai penampung dan pengolah hasil para penambang. Dari penangkapan para tersangka tersebut didapat barang bukti berupa emas murni dan campuran yang jika dinominalkan dapat mencapai miliaran rupiah."Dengan barang bukti 38 barang bukti antara lain, berupa ribuan kilogram emas, peralatan untuk memproses hasil PETI, uang tunai dan tabungan," jelas buku tersebut.Dalam perjalanan karier Arief sebagai Kapolda Kalbar dia mengakui bahwa banyak orang semakin membencinya karena banyak lahan haram berhasil diberangus. Bahkan karena prestasinya ini, dia pernah ingin didongkel dari jabatannya. Bahkan muncul isu para pengusaha hitam berkonspirasi mengumpulkan sejumlah uang sekira Rp 30 miliar untuk melobi Mabes Polri agar memindahkan Arief ke tempat lain. Menyikapi isu tersebut Arief dengan santai mengatakan, "Rp 10 miliar itu untuk mendongkel saya itu kecil," tandasnya.
Kisah Brigjen Arief sikat penadah emas ilegal di Kalbar
Demi menangkap penambang ilegal, polisi harus masuk hutan dan meregang nyawa
Advertisement
Rekomendasi