Ketua DPRD Riau akui sudah cium ada suap bahas RAPBD

Suparman mengaku kurang bukti dan tidak tahu soal jumlah duit sogok.

Abdullah Sani
Oleh Abdullah Sani - Reporter
Ketua DPRD Riau akui sudah cium ada suap bahas RAPBD
Ketua DPRD Riau Suparman (tengah mengenakan kemeja safari). ©2015 Merdeka.com

Buat melengkapi berkas kasus Gubernur non-aktif Riau, Annas Maamun, sebagai tersangka atas dalam kasus suap pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) Riau 2015, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini memeriksa Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau, Suparman. Dia diperiksa sebagai saksi di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Pekanbaru, Jalan Pattimura Selasa (31/3).Penyidik KPK juga memeriksa mantan Wakil Ketua DPRD Riau yang juga polisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Rusli Ahmad, dan mantan anggota Banggar DPRD, Bagus Santoso. Keduanya juga diperiksa sebagai saksi.Suparman hadir sekitar pukul 08.00 WIB, tak berapa lama kemudian disusul dengan kedatangan Bagus Santoso dan Rusli Ahmad. Sewaktu pemeriksaan berlangsung, ajudan Suparman langsung menjaga pintu ruang pemeriksaan. Dengan menggunakan baju cokelat, dia menghadang setiap juru foto dan juru kamera mencoba mengabadikan proses pemeriksaan. Bahkan sempat pula terjadi perdebatan antara wartawan dan sang ajudan karena ulahnya itu. Padahal, sejumlah peliput tidak hendak masuk ke dalam ruangan karena pemeriksaan berlangsung secara tertutup."Saya dapat instruksi dari bapak supaya jangan ada yang masuk, nanti saja," kata ajudan akrab disapa Rambe itu.Rusli Ahmad dan Bagus Santoso terlihat keluar sekitar pukul 12.00 WIB. Bagus langsung kabur dari wartawan dengan alasan pergi ke toilet. Setelah ditunggu, dia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sementara Rusli, langsung meladeni pertanyaan dilayangkan sejumlah wartawan.Rusli mengatakan, dia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka suap RAPBD 2015, Annas Maamun, Gubernur Riau non-aktif, dan mantan anggota DPRD Riau Kir Jauhari, juga ditetapkan jadi tersangka oleh KPK."Ada sejumlah pertanyaan yang diajukan. Semuanya sebagai saksi untuk tersangka," kata Rusli kepada sejumlah wartawan.Rusli mengatakan, penyidik memintanya menjelaskan proses pembahasan APBD-Perubahan 2014 dan RAPBD 2015 dari awal hingga akhir. Dia pun mengakui mengatakan di depan penyidik soal dugaan suap itu."Diminta menjelaskan bagaimana prosesnya," ucap Rusli.Rusli berdalih tidak tahu menahu adanya suap dalam pembahasan RAPBD. Termasuk menganggarkan duit Rp 2 miliar buat persiapan pemekaran Riau Pesisir.Terkait adanya suap dalam RAPBD yang dimodali Annas, Rusli mengaku tidak tahu."Tidak ada. Kala itu, saya menolak membahas RAPBD dan meminta dibahas saja oleh anggota DPRD yang baru. Namun karena keputusan di DPRD itu kolektif dan kolegial, saya ikut saja membahasnya," ujar Rusli.Sementara Suparman, sewaktu keluar dari ruang pemeriksaan mengakui penyidik menanyakan tentang adanya bagi-bagi uang. Tetapi, Suparman mengatakan dia tidak tahu apa-apa soal duit itu."Memang ada rekaman saya dengan Annas, tapi tidak ada kaitannya dengan APBD. Sewaktu itu, saya tidak ikut paripurna karena ikut pelantikan pimpinan DPD Rohul," ucap Suparman.Namun, Suparman mengaku sering bertemu Annas. Tetapi menurut dia pertemuan itu hanya silaturahim sesama kader Golkar."Saya tak ingin nila setitik merusak susu sebelanga. Sebelumnya, saya memang mengendus adanya isu ini. Saya tak ingin jadi temuan buruk, maka saya ingin didalami, cuma agak lambat karena kurang cukup bukti," ujar Suparman.Suparman juga mengaku bertemu dengan Kir Jauhari. Menurut dia, Kir memang pernah mengatakan adanya dana operasional pengesahan pemekaran Riau pesisir."Saya tak tahu nominalnya, yang jelas penyidik tidak menanyakan tentang pemekaran," tambah Suparman sambil berlalu meninggalkan wartawan.

Rekomendasi