Manfaat kontes kecantikan dipertanyakan

Kelakuan beberapa peserta kontes kecantikan dianggap mencoreng Indonesia.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Manfaat kontes kecantikan dipertanyakan
Puteri Indonesia 2014. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Masyarakat Indonesia sempat dikejutkan oleh beredarnya foto Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri, sedang mengenakan kaos berlambang palu dan arit. Foto sempat menuai kontroversi itu diunggah melalui akun Instagram miliknya.Seperti diketahui lambang palu dan arit merupakan lambang dari Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI sempat menjadi partai komunis non-penguasa terbesar di dunia setelah Rusia dan Tiongkok. Akhirnya PKI dihancurkan pada tahun 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.Bukan hanya Anindya terlibat kontroversi. Miss Indonesia 2006, Kristania Virginia Besouw, asal Manado tiba-tiba menyatakan diri menjadi warga negara Amerika Serikat sejak 2014. Kristy, sapaan akrab Kristania, berpindah warga negara diduga karena telah berdinas di Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army).Karena kontroversi itu, manfaat dari adanya kontes kecantikan di Indonesia pun dipertanyakan. Sosiolog Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Musni Umar, mempertanyakan apa hasil bisa didapatkan oleh Indonesia dari ajang adu kecantikan. Menurut dia, apa yang sudah dilakukan oleh kedua duta Indonesia itu sama saja mempermalukan nama Indonesia."Saya prihatin dengan perilaku mereka yang tidak nasionalis. Untuk Puteri Indonesia, kalau dia tahu dan berwawasan luas, dia tahu palu-arit simbol dari Partai Komunis Indonesia yang pernah memberontak Indonesia. Apalagi soal Miss Indonesia yang pindah warga negara, ini sangat menyakitkan hati," kata Musni ketika dihubungi kemarin.Sebagai duta perwakilan Indonesia, lanjut Musni, mereka seharusnya bisa bersifat nasionalis dan patriot terhadap negara. Bagaimanapun juga, lanjut dia, Anin dan Kristy bisa menjadi besar karena Indonesia.Musni beranggapan, jika tidak ada hasil dari adanya kontes-kontes kecantikan tersebut, lebih baik ditiadakan. Jika hasilnya seperti ini, sama saja kontes-kontes itu hanya kedok bisnis."Dalam praktiknya, apa yang terjadi oleh mereka sudah menjadi bisnis. Di mana mereka menggunakan nama Indonesia untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika akhirnya disalahgunakan lebih baik tidak usah diadakan," imbuh Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun itu.Menurut Musni, masih banyak cara yang bisa dilakukan sebagai wujud promosi bangsa Indonesia selain dengan kontes-kontes kecantikan tersebut. Seperti melalui media, kunjungan dengan para duta besar ke negara lain, dan pertunjukan budaya Indonesia oleh para turis.Selain menuntut untuk dihapuskan, Musni juga meminta dicabutnya gelar Anin dan Kristy. Menurutnya, mereka sudah mencemarkan nama baik bangsa Indonesia dan tidak lagi pantas untuk menyandang gelar Puteri Indonesia atau Miss Indonesia."Yang memberi gelar itu harus segera mencabut gelar mereka. Kita harus mengecam mereka yang menghina Indonesia. Miss Indonesia atau Puteri Indonesia itu jadi public figure, kalau dia memberi contoh yang tidak baik, ya sudah sepatutnya gelar mereka dicabut," tutup Musni.Musni berharap, peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia. Orang-orang yang dipilih sebagai perwakilan Indonesia, tidak hanya cantik, tapi juga memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme.

Rekomendasi