Orangtua bingung perlakukan anaknya mengidap kelamin ganda

Namun akhirnya keluarga sepakat memperlakukan anak-anaknya sebagai laki-laki dalam pergaulan di lingkungannya.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Orangtua bingung perlakukan anaknya mengidap kelamin ganda
Empat bersaudara kelainan gen. ©2015 Merdeka.com

Torikin (42) dan Seni (37) warga Desa Sukasari, RT 06/ RW 01, Kelurahan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah yang merupakan kedua orangtua empat anak yang mengidap penyakit kerancuan kelamin sejak dilahirkan, sempat bingung memperlakukan anaknya sehari-hari. Mereka bingung memperlakukan sebagai laki-laki atau perempuan kepada anak-anaknya itu.Torikin mengaku setelah dilakukan musyawarah bersama keluarga besarnya dan istrinya Seni, mereka menyepakati untuk memperlakukan ke empat anaknya sebagai laki-laki. Sehingga, meski mempunyai kelainan pada bagian kelamin ganda, keduanya mengenakan pakaian layaknya sebagai anak laki-laki."Awalnya bingung menentukan kelamin ke tiga anaknya saya. Namun akhirnya keluarga sepakat memperlakukan anak-anaknya sebagai laki-laki dalam pergaulan di lingkungannya," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com melalui handphone milik kakaknya Ulumudin Sabtu (4/3).Kakak Torikin yang juga perangkat Desa Sukosari, Ulumudin yang sempat ikut mengantar keluarga tersebut ke Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Kota Semarang mengatakan ketiga warganya tersebut secara financial juga memerlukan bantuan dari berbagai pihak untuk melakukan operasi."Kejadian ini berulang seperti yang dialami warga kami dua tahun yang lalu. Kondisi warga sangat tidak mampu. Dulu, untuk memeriksakan ke tiga anak ini, paling tidak kami butuh dana minimal 1,5 juta setiap datang ke RS Kariadi Semarang. Dan kami cari ke sana kemari untuk memenuhi kebutuhan tersebut," papar Ulumudin, Sekretaris Desa atau biasa disebut Carik oleh warga sekitar ini.Ulumudin berharap berbagai pihak, terutama pemerintah bisa membantu kasus warga sekaligus keluarganya ini."Kami berharaplah, pemerintah bisa memberikan bantuan dan perhatiannya terkait kejadian yang kami alami ini. Kasihan Mas Torikin karena dari golongan orang tidak mampu. Kerjanya hanya sebagai buruh tani dan serabutan. Sementara istrinya Seni hanya di rumah saja mengurusi anak-anaknya," tuturnya.Sebelumnya, dari lima anak Torikin yang dibawa ke Laboratorium RSND, tiga di antaranya mengidap penyakit Ambigus Genetalia yakni Z (12), TA (4) dan NI (2), sedangkan IS dan A dinyatakan normal oleh tim ahli.Selain itu, putri pertamanya bernama SD (19) yang tengah menempuh studinya di Pondok Pesantren juga mengalami kerancuan kelamin, namun pada kesempatan tersebut Torikin tidak sempat membawanya ke RSND.Torikin menjelaskan, kelainan muncul terutama pada payudara yang mulai hilang, suara SD yang seperti laki-laki dan tumbuhnya kumis dan jambang pada wajah SD anak pertamanya. Torikin yang bekerja sebagai buruh serabutan ini, mengakui penyakit tersebut pertama kalinya muncul dari kerabatnya.Kerabatnya yang diketahui bernama Santi (40) ini juga mengalami penyakit serupa dan akhirnya dibawa ke Semarang RSND untuk di cek. Pada tahun 2012 Santi akhirnya sukses di operasi di RSUP dr Kariadi Semarang.

Rekomendasi