Cerita Dewi Samudra, penunjuk ramalan masa depan warga Tionghoa

Biasanya, di Hari Imlek yang minta diramal nasibnya, mayoritas anak-anak muda Tionghoa.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Cerita Dewi Samudra, penunjuk ramalan masa depan warga Tionghoa
malam imlek. ©2015 merdeka.com/arie basuki

Menyambut Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa tak hanya melakukan ritual keagamaan di klenteng-klenteng. Mereka juga berbondong-bondong ingin diramal masa depannya.Hal ini sudah menjadi tradisi bagi warga Tionghoa di setiap tahunnya, yang bertepatan dengan perayaan Imlek. Di Klenteng Sukaloka, Jalan Cokelat, Surabaya, Jawa Timur, misalnya.Pengurus Klenteng Sukaloka, Ong King Ngik mengatakan, di Hari Imlek usai sembahyang, warga Tionghoa tidak langsung segera pulang ke rumah masing-masing. Mereka duduk mengantre untuk minta diramal nasibnya."Permintaan untuk diramal nasibnya itu sejak kemarin, sebelum Imlek, di luar Imlek, paling banyak hanya tujuh orang saja yang minta diramal, bahkan tidak ada sama sekali. Tapi kalau pas perayaan Imlek, jumlahnya cukup banyak," kata Ong menerangkan, Kamis (19/2).Biasanya, lanjut Ong, yang minta diramal nasibnya, mayoritas anak-anak muda Tionghoa. "Tapi pada perayaan Imlek, yang minta diramal tidak hanya kaum muda, orang-orang dewasapun tak mau ketinggalan minta diramal nasibnya," katanya.Dia menjelaskan, anak muda biasanya ingin diramal soal masa depan atau seputar jodoh. "Kalau orang dewasa, biasanya ingin mengetahui soal usahanya nanti sukses atau tidak. Selain itu, kalau ingin pindah usaha, pekerjaan apa yang cocok," terang Ong.Ong juga menjelaskan, ramalan tentang masa depan yang menjadi tradisi warga Tionghoa tidak lepas dari petunjuk Penguasa Lautan, yaitu Dewi Samudra. Untuk itu ada ritual yang harus dijalani.Meski proses ritual yang wajib dijalani hanya berjalan sekitar lima menit bisa berlangsung lama jika gagal atau salah. Sebab si pemohon harus mengulang ritualnya hingga benar."Ramalan tidak serta merta bisa diketahui, karena tergantung dari petunjuk Dewi Samudra. Petunjuk akan datang berdasarkan kekhusukan dari yang diramal saat menjalani proses ritual," terang Ong.Dijelaskan Ong, proses ritual yang harus dijalani oleh si pemohon, pertama harus memberikan penghormatan dengan mengangkat tiga kali dupa di hadapan Patung Dewi Samudra. Penghormatan itu disertai menyebutkan nama dan alamat si pemohon.Selanjutnya menggerakkan puluhan lidi yang berada dalam sebuah wadah yang dipegang si pemohon hingga salah satu lidi jatuh. Kemudian, dilanjutkan ritual membuang dua buah kayu berbentung melengkung seperti pisang."Jika jatuhnya kayu itu sama-sama menghadap ke atas, berarti Dewi Samudera sedang tertawa. Artinya yang diramal tidak begitu percaya dengan hasilnya. Sehingga harus melakukan ritual ulang," turu Ong.Tetapi, kata Ong, jika kedua kayu tersebut sama-sama jatuh telungkup, itu tandanya Dewi Samudra marah."Artinya hati yang diramal menyepelehkan ritual dan harus mengulang lagi. Tetapi jika satu telungkup dan satunya lagi menghadap ke atas berarti ritual sempurna," katanya.Jika hasil ritual sempurna, atau jatuhnya kayu menghadap berlawanan, maka si peramal baru memulai menjelaskan arti jatuhnya kayu yang sudah diberi nomor urut tersebut."Kesempurnaan ritual itu memang tergantung kekhusukan ritual yang ingin diramal, jadi memang tidak begitu saja diberi jawaban oleh Dewi Samudra," pungkasnya.

Rekomendasi