Kritik untuk jenderal polisi dalam kasus pengeroyokan TNI AL

"Kami ingin katakan bahwa seharusnya pimpinan dapat bersikap lebih tegas apabila ada anak buah seperti ini (dikeroyok)."

Didi Syafirdi
Oleh Didi Syafirdi - Reporter
Kritik untuk jenderal polisi dalam kasus pengeroyokan TNI AL
Ilustrasi Gedung Mabes Polri. ©2014 Merdeka.com

Plt Kapolri Komjen Badrodin Haiti tak memberi atensi dalam kasus pengeroyokan yang menimpa dua perwira polisi. Badrodin sebagai pimpinan pun dinilai tidak memberi perhatikan kepada bawahan.Komisioner Kompolnas Andrianus Meliala menyarankan agar Badrodin mau meluangkan waktu menengok Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kompol Budi Hermanto. Keduanya babak belur dihajar TNI AL saat berada di Bengkel Cafe."Kami ingin mengatakan bahwa seharusnya pimpinan dapat bersikap lebih tegas apabila ada anak buah seperti ini, jangan terlihat seperti adanya sikap pendiaman," kata Andrianus, kemarin.Adrianus yang sempat melihat kondisi kedua polisi mengatakan ada jejak kaki dan jejak pukulan sebagi bukti penganiayaan. Dia menilai Badrodin sebagai pimpinan yang tidak memperhatikan bawahan."Kami sebagai komisi yang mengatasi ada hal yang salah. Harusnya pimpinan membuat upaya yang maksimal agar anak buah terlindungi dan diayomi," tuturnya.Namun Komisioner Kompolnas Hamidah juga mengkritik polisi yang kerap melakukan rapat di tempat-tempat hiburan malam. Cara ini dinilai tidak pantas dilakukan karena akan berdampak negatif bagi institusi.Menurutnya, kejadian di Bengkel Cafe harus menjadi pelajaran bagi seluruh anggota Polri. Bukan tidak mungkin kejadian serupa terulang saat para anggota ini terjaring razia.

"Sudah setop jangan rapat di kafe, apalagi sampai jadi beking di tempat seperti itu. Sangat tidak pas, rapat ya di kantor kok di cafe. Sangat tidak pantas buat kepolisian," ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (12/2).Hamidah mengatakan, sekarang ini publik sudah cenderung menilai polisi akrab dengan pemilik kelab malam. Untuk itu, dia mendorong agar pengawasan internal dapat bekerja lebih maksimal."Ini kan bisa merendahkan harkat, martabat anggota Polri. Makanya pengawasan harus memberi atensi," tandasnya.Seperti diketahui, dua perwira menengah Polri Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kompol Budi Hermanto dianiaya puluhan anggota POM TNI AL. Kompol Teuku Arsya Khadafi mengalami luka paling parah. Rusuk tulangnya patah. Sedangkan Kompol Budi juga mengalami luka lebam di wajah dan kuping.Terkait insiden ini, dua institusi saling beda pernyataan mengenai kronologi pemukulan di Bengkel Cafe. TNI AL membela anggotanya, Polda Metro juga tak terima anggotanya dipukuli.Kompol Budi membela diri, menurutnya tak ada minuman atau wanita di ruangan itu. Dia juga mengaku tak membawa pistol.

Rekomendasi