Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengkritik anggota polisi yang kerap melakukan rapat di tempat-tempat hiburan malam. Cara ini dinilai tidak pantas dilakukan karena akan berdampak negatif bagi institusi. "Sudah setop jangan rapat di kafe, apalagi sampai jadi beking di tempat seperti itu," ujar Komisioner Kompolnas Hamidah kepada merdeka.com, Kamis (12/2).Menurutnya, kejadian di Bengkel Cafe harus menjadi pelajaran bagi seluruh anggota Polri. Bukan tidak mungkin kejadian serupa terulang saat para anggota ini terjaring razia."Sangat tidak pas, rapat ya di kantor kok di cafe. Sangat tidak pantas buat kepolisian," tuturnya.Seharusnya, kata Hamidah, jika hal itu dilakukan pimpinan mengetahuinya. Pimpinan juga harus hati-hati memberikan izin jangan sampai terjadi konflik kepentingan. "Pimpinan lihat relevansinya, tepat atau tidak," katanya.Hamidah mengatakan, sekarang ini publik sudah cenderung menilai polisi akrab dengan pemilik kelab malam. Untuk itu, dia mendorong agar pengawasan internal dapat bekerja lebih maksimal."Ini kan bisa merendahkan harkat, martabat anggota Polri. Makanya pengawasan harus memberi atensi," tandasnya.Seperti diketahui, dua perwira menengah Polri Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kompol Budi Hermanto dianiaya puluhan anggota POM TNI AL. Kompol Teuku Arsya Khadafi mengalami luka paling parah. Rusuk tulangnya patah. Sedangkan Kompol Budi juga mengalami luka lebam di wajah dan kuping.Terkait insiden ini, dua institusi saling beda pernyataan mengenai kronologi pemukulan di Bengkel Cafe. TNI AL membela anggotanya, Polda Metro juga tak terima anggotanya dipukuli.Kompol Budi membela diri, menurutnya tak ada minuman atau wanita di ruangan itu. Dia juga mengaku tak membawa pistol.
Kompolnas: Sudah polisi jangan rapat-rapat di kafe, tidak pantas!
"Sudah setop jangan rapat di kafe, apalagi sampai jadi beking di tempat seperti itu," ujar Komisioner Kompolnas Hamidah.
Rekomendasi