Sejak munculnya kabar adanya keturunan warga Desa Kanding Kecamatan Somagede Banyumas Jawa Tengah, Raymond Sapoen yang menyalonkan diri menjadi Presiden Suriname, kantor Desa Kanding ramai didatangi awak media mencari kebenaran fakta tersebut.Saat ditemui di ruangannya, Kepala Desa Kanding Awal Nurhandoko mengaku sejak Senin (2/2), beberapa awak media cetak maupun elektronik semakin sering menemuinya. "Tadi saya baru mengantarkan beberapa teman wartawan ke rumah orang yang masih memiliki hubungan famili dengan Sapoen," ujarnya, Rabu (4/2) siang.Awal sendiri mengaku kaget dengan adanya kabar yang memberitakan Raymond Sapoen adalah keturunan Desa Kanding yang saat ini dipimpinnya. "Dahulu memang ada cerita, banyak pemuda desa yang merantau ke kota atau ke Sumatera. Cerita itu saya dapat dari kakek saya yang juga ikut merantau ke luar daerah di zaman penjajahan Belanda," ucapnya.Diakuinya, dari penelusuran arsip desa tidak ada pendataan yang akurat di zaman itu dan menunjukkan data adanya warga Kanding yang bernama Sapoen merantau ke Suriname. "Terus terang saja, tidak ada arsip desa yang menyebutkan soal itu. Karena di zaman dulu tidak ada pendataan adminstrasi sebaik sekarang," tuturnya.Lebih jauh, Dia menjelaskan Desa Kanding sebelumnya bukanlah sebuah desa seperti yang ada saat ini. "Dahulu pada Zaman Belanda, di sini ada dua dukuh yakni Kanding dan Kedawung. Kemudian, kedua dukuh ini menjadi Desa Kanding," paparnya.Dari data yang dimiliki merdeka.com, saat menyusuri data kepergian Sapoen ke Suriname tahun 1928, dia baru berusia 25 tahun. Sapoen sendiri berangkat dari Batavia dengan menggunakan kapal Merauke II pada 30 Juni 1928. Sapoen sendiri diketahui bekerja di bidang perkebunan di Suriname dengan kontrak yang dimulai pada 18 Agustus 1928 dan berakhir pada 18 Agustus 1933.
Advertisement
Meski begitu, Awal Nurhandoko mengaku belum mengetahui secara pasti hubungan Sapoen dengan orang yang disebut-sebut memiliki famili bernama Sadem. "Mbah Sadem sendiri sudah meninggal puluhan tahun lalu. Dari cerita beliau kepada orang terdekatnya, Sadem pernah cerita kalau memiliki anak bernama Sapoen yang tak kunjung kembali ke rumahnya, bahkan hingga dia meninggal," ucapnya.Awal sendiri mengaku mengetahui kabar tersebut dari seorang warga Purbalingga yang aktif dalam Paguyuban Sambung Roso Jawa-Suriname, Arie Groobee. Arie yang sehari-hari berprofesi sebagai pelatih renang mengetahui beberapa informasi orang Jawa yang bermigrasi ke Suriname saat zaman penjajahan."Saat itu Pak Arie datang ke balai desa dan menanyakan tentang keturunan Sapoen, dari hasil informasi yang ada di desa kami, memang ada beberapa nama Sapoen. Kemudian, Pak Arie menunjukkan foto Raymond Sapoen dan menanyakan dari segi fisik yang mirip dengan Raymond Sapoen. Saat itu, kami mengingat memang ada warga di Grumbul Kanding bernama Parsono yang mirip dengan Pak Raymond," ujarnya.Mengetahui adanya kemiripan secara raut muka dan fisik, Arie kemudian menelusuri runutan keturunan. "Ternyata, beberapa anggota keluarga sebelum generasi Parsono mengenal Sapoen. Bahkan, ada yang mengakui memiliki hubungan famili dari orangtua Sadem, yang tak lain adalah orangtua Sapoen," ucap Arie saat dihubungi beberapa waktu lalu.Sebelumnya, Arie mengaku sempat mencari data tentang asal usul keluarga Raymond Sapoen yang merupakan keturunan Jawa. Dari pencariannya dari situs www.gahetna.nl, ditemukan dua nama Sapoen. "Dari data tersebut, ada dua nama Sapoen. Satu berasal dari Kedungwuluh, Purbalinga, sedangkan satunya lagi berasal dari Kanding, Banyumas. Namun, setelah saya melihat mas Parsono dengan ciri fisiknya yang mirip dengan Raymond Sapoen, saya meyakini keluarganya berasal dari Kanding," jelasnya.Dari penelusuran Arie di Desa Kanding, dia menemukan sanak famili lainnya yang bernama Radam. Radam sendiri mengaku kelahiran tahun 1934 dan mengenal Sapoen semasa muda. "Ada beberapa warga saya yang mirip dengan Capres Suriname tersebut, mereka adalah Parsono, Radam dan Mijan, kerabat Sapoen," katanya.Dengan kondisi tersebut, Arie lebih meyakini lagi buyut Raymond Sapoen yang saat ini menjabat sebagai menteri pendidikan di Suriname tersebut adalah warga keturunan Kanding yang pergi sejak tahun 1928. "Sebenarnya, pencarian silsilah ini hanya untuk menyambung tali silaturahmi saja, tidak ada keinginan lain dari kami. Kalau pun nantinya terbukti, tentunya akan membanggakan warga Kanding," ucapnya.Senada dengan Arie, Awal Nurhandoko pun mengaku bangga jika benar Raymond memiliki keturunan warga Desa Kanding, Banyumas. "Tetapi, kami sendiri belum bisa memastikan. Karena ini belum bisa dikonfirmasi sendiri oleh Pak Raymond. Tetapi yang jelas sebagai orang Jawa kita senang jika Pak Raymond menjadi Presiden Suriname," harapnya.