Setiap ruangan di Masjid Tiban dipercayai punya khasiat

"Karena untuk kemaslahatan kami tidak pernah menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan," kata Mustafa.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Setiap ruangan di Masjid Tiban dipercayai punya khasiat
Masjid Tiban di Malang. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Masjid Tiban atau Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah dirancang sendiri oleh pendirinya, KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam.Setiap kamar yang akan dibangun atas petunjuk dari salat istikhoroh Romo Kiai Ahmad. Pembangunan selalu menunggu istikhoroh, hingga urusan ukuran kamar, ornamen, warna cat dan hiasan yang digunakan."Dasarnya istikhoroh. Ini dibangun di sana, langsung sesuai ukurannya. Kalau kebesaran sedikit saja pasti disuruh bongkar. Setiap kamar memiliki manfaat sendiri-sendiri," kata H Mustafa, salah satu pengurus kepada merdeka.com"Istkhoroh itu dilakukan agar bisa menyambungkan sama Allah," ujar Mustafa melanjutkan.Setiap kamar dipercaya memiliki manfaat sendiri-sendiri. Manfaat itu juga menunjukkan keikhlasan orang-orang yang membangun. Semakin ikhlas semakin memberikan manfaat kepada orang lain.Pembangunan kamar atau ruangan dengan segala desainnya dibiayai oleh para jamaah. Mereka mengerjakannya secara gotong royong sesuai kemampuan. Ada yang hanya membantu tenaga, serta ada pula yang membantu biaya."Karena untuk kemaslahatan kami tidak pernah menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan. Mungkin sudah puluhan atau ratusan miliar enggak tahu. Kita juga masih terus membangun," katanya.Ada sekitar 325 santri yang menetap bersama keluarganya. Mereka tinggal di lingkungan pesantren, sambil terus mengembangkan usaha pesantren. Sementara jumlah santri yang tidak menetap jumlahnya mencapai ribuan.Rudy, asal Sepanjang, Sidoarjo, mengaku menjalani riadoh bersama 30 orang temannya. Riadoh adalah istilah yang digunakan oleh santri atau jamaah untuk mengabdikan diri demi mendapatkan ridlo Allah semata. Rudy dan kawan-kawan setiap Sabtu dan Minggu ikut membangun pesantren sebagai bentuk membersihkan hati.Rudy sendiri menjadi jamaah sejak 2006, tapi mulai mengenal Pondok Romo Ahmad sejak 2002. "Ini bukan membantu, tapi karena yang butuh saya untuk membersihkan diri. Kalau bisa membantu dengan tenaga ya dengan tenaga, ada yang sebulan sekali, ada yang setahun kemudian tinggal selama seminggu di sini," kata Rudy bersama beberapa orang yang sedang bekerja.Selama melakukan riadoh, Rudy kenal dengan beberapa jamaah lain yang melakukan hal serupa. Mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Samarinda, Jakarta, Lamongan, Bandung, Banyuwangi dan lain-lain. Rudy juga membantah kalau pesantren dibangun oleh tentara jin."Jinnya ya kayak kita-kita ini. Semua ikhlas membantu dengan tenaga, kalau ada rizki bisa juga dengan uang," katanya.

Rekomendasi