Kisah JK libatkan perahu bugis angkut bantuan korban tsunami

Strategi ini berhasil menekan ongkos operasional pengiriman hingga di bawah Rp 600 juta sebulan.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Kisah JK libatkan perahu bugis angkut bantuan korban tsunami
tsunami aceh. ©AFP Photo

Bencana gempa tsunami Aceh, mengundang simpati dari berbagai negara. TNI menjalin komunikasi dengan angkatan bersenjata negara-negara sahabat antara lain Malaysia, Singapura, Australia, China, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Meksiko, Uni Eropa dan beberapa negara lain. Para relawan juga wartawan dari berbagai negara diperbolehkan masuk ke Indonesia setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi lampu hijau.Semula beberapa negara, seperti Australia, menawarkan bantuan berupa obat-obatan dan tenaga medis, namun saat itu yang dibutuhkan adalah alat angkut materi bantuan."Saya minta Hercules-nya dibawa. Begitu juga saat Amerika mengatakan akan mengirim obat-obatan, saya tegaskan, itu tidak cukup. Akhirnya 17 helikopter mereka datang. Saya juga minta agar Singapura mengirim helikopter sebanyak-banyaknya. Sebab kalau cuma kirim obat-obatan, itu nonsense," kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto seperti tertuang dalam buku Ombak Perdamaian, Inisiatif dan Peran JK Mendamaikan Aceh, dikutip merdeka.com, Jumat (26/12).Namun, lepas dari masa tanggap darurat, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang masih berkunjung ke Aceh beberapa kali, melihat helikopter asing masih berseliweran mengangkut peralatan dan logistik, terutama ke daerah-daerah yang tidak terjangkau transportasi darat.JK berpikir, apabila biaya operasional helikopter-helikopter tersebut dihitung dalam USD dan digabungkan sebagai angka bantuan, maka nilai riil bantuan yang diberikan kepada para korban tsunami amat sedikit lantaran biaya operasional satu helikopter saja diperkirakan habis Rp 1 miliar setiap bulan.JK pun memutar otak dan mulai mencari alternatif angkutan bantuan lain selain helikopter. JK mendapati, ternyata di pelosok-pelosok Aceh perahu-perahu Bugis masih berperan untuk mengangkut barang dan sebagai sarana transportasi. JK langsung mengumpulkan data mengenai jumlah, pemilik, lokasi dan daya jelajah perahu-perahu tersebut. Pelaut Bugis yang ada di kawasan Kepulauan Riau juga diminta merapat ke Aceh.JK memanfaatkan kemampuannya dalam melobi. Kepada para pelaut Bugis tersebut, JK mengingatkan tentang sejarah panjang persaudaraan Bugis-Aceh, saat orang Bugis diterima dan menjadi raja di Tanah Rencong. Lobi tersebut berhasil. JK melepas perahu-perahu tersebut menyusuri sungai-sungai hingga ke pedalaman, membawa beras, mi instan, biskuit, dan paket bantuan lainnya.Strategi ini berhasil menekan ongkos operasional pengiriman hingga di bawah Rp 600 juta sebulan. Sukses melibatkan perahu-perahu tradisional, JK meminta negara-negara donor menghentikan operasional helikopter mereka.

Rekomendasi