Mengenal Neuroblastoma, kanker yang merenggut nyawa Ashira

Sekitar 75 persen penderita kanker ini adalah anak-anak di bawah 5 tahun.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Mengenal Neuroblastoma, kanker yang merenggut nyawa Ashira
Ashira. ©instagram.com

Nama balita ini Ashira Shalva. Usianya baru menginjak 2 tahun 4 bulan. Banyak yang bilang, anak kecil di usia ini sedang lucu-lucunya. Bila melihat gadis kecil ini, perkataan itu bukan pujian semata.Ibu dan ayahnya memanggil Ashira dengan sebutan Non. Non memang bayi menggemaskan. Rambutnya hitam lebat, matanya indah, kulitnya putih dan bila tersenyum begitu manis.Non pun fotogenik. Dari beberapa foto yang ramai tersebar di media sosial, Non tak pernah cemberut bila difoto. Dia bergaya seperti anak seusianya. Siapapun yang melihat Non, pasti akan senang.Tapi cerita tentang si cantik Non harus berakhir duka. Non meninggal dunia setelah divonis mengidap penyakit Neuroblastoma.Non sempat menjalani perawatan sampai ke Guangzhou Modern Cancer Hospital, China. Tapi Tuhan sayang Ashira, dia lebih dulu dipanggil lebih dulu ke pangkuan Ilahi.Lalu seperti apa ganasnya Neuroblastoma hingga merenggut nyawa si lucu Ashira?

Neuroblastoma merupakan kanker pada sistem saraf yang kerap terjadi pada anak-anak. Jenis kanker ini bisa tumbuh di berbagai bagian tubuh. Kanker ini bersumber dari jaringan yang membentuk sistem saraf simpatis yakni bagian dari sistem saraf yang mengatur fungsi tubuh involunter atau di luar kehendak, dengan cara meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, mengkerutkan pembuluh darah dan merangsang hormon tertentu.Neuroblastoma juga bisa berasal dari jaringan kelenjar adrenal di perut. Kemudian menyebar dengan cepat ke hati, kelenjar getah bening, tulang, dan sumsum tulang.Dalam satu situs kesehatan, sekitar 75 persen penderita kanker ini adalah anak-anak di bawah 5 tahun. Belum diketahui pasti penyebabnya."Ya benar, penyakit ini paling sering pada anak dan angka kematiannya cukup tinggi," kata seorang ahli saraf di komunitas saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/11).Penyebab tingginya angka kematian, katanya, karena salah satu pengobatan dari penyakit ini bisa dilakukan lewat operasi. Tapi untuk anak-anak, keputusan melakukan operasi itu tidak mudah."Kita harus lihat ketahanan tubuhnya dan usianya," tambahnya.Banyak hal yang jadi cikal bakal munculnya penyakit ini pada seseorang utamanya bayi. Bila sudah terjangkit, penyebaran penyakit ini sangat cepat."Bisa genetik, bisa karena makanan, lingkungan, asap, polusi lingkungan air juga kadang air minum. Nah makanan-makanan yang berbahaya inilah yang merangsang pertumbuhan sel yang berlebihan," tambahnya.Lalu bagaimana bisa mendeteksi dini penyakit ini pada anak?

"Biasanya dapat dilihat dari keterlambatan perkembangan anak yang tidak terlalu progresif. Penyakit ini itu enggak ada awalannya seperti demam. Dan namanya tumor, bila besar maka akan menekan ke daerah yang lebih luas lagi," tambahnya.Biasanya, kanker jenis ini paling sering menyerang di bagian perut. Meski angka kematiannya cukup tinggi, di Indonesia sendiri belum ada data pasti berapa banyak bayi atau balita yang divonis penyakit ini kemudian meninggal."Data pasti belum ada. Karena tumor jenis itu bukan sering, jarang. Tapi umumnya terjadi pada anak-anak," jelasnya.Seandainya dioperasi, peluang kesuksesan tergantung pada kondisi si tumor itu sendiri dan penyebarannya di dalam tubuh.

Rekomendasi