Ibu penganiaya siswa SMA 3: Anak saya juga korban

Ibu terdakwa menuding lemahnya pengawasan sekolah membuat kejadian serupa terus terulang.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Ibu penganiaya siswa SMA 3: Anak saya juga korban
Ilustrasi Penganiayaan. ©2014 Merdeka.com

LS, ibu dari DW, terdakwa kasus penganiayaan hingga tewas adik kelasnya di SMA 3 Setiabudi, Jakarta, dalam kegiatan pecinta alam Sabhawana, mengatakan anaknya juga merupakan korban dari lemahnya pengawasan pihak sekolah. Sebelum kejadian itu terungkap, putranya pernah dianiaya oleh kakak kelasnya.

"Anak saya juga merupakan korban dalam kasus ini, kalau pengawasan dari sekolah berjalan dengan baik, maka kejadian ini tidak akan terjadi," kata LS di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (11/11).

Ketika penganiayaan itu berlangsung, tidak ada pembina dari sekolah yang mengawasi jalannya acara esktra kurikuler tersebut. Padahal, lokasinya cukup jauh dari sekolah.

"Padahal lokasinya jauh dari sekolah kan, harusnya ada pengawasan ekstra," ucapnya.

Kegiatan ekstra kurikuler Sabhawana tersebut, telah berlangsung selama 36 tahun, namun baru kali ini ada kejadian hingga menyebabkan korban tewas. Dia pun baru mengetahui putranya juga menjadi korban saat salah seorang siswa SMA 3 dilaporkan tewas.

"Saya juga baru tahu, ternyata dulu anak saya mengalami perlakuan yang sama," bebernya.

Namun, dia tambahkan, putranya tidak pernah bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dia menduga karena takut sekolah menutup kegiatan tersebut.

"Mungkin karena dia takut ya, takut dengan cerita, kegiatannya akan di tutup sekolah," lanjutnya.

Karena itu, dia mengatakan, putranya merupakan korban dari sistem yang ada di sekolah tempat ia belajar.

"Dengan ini kami harapkan menjadi pelajaran untuk kita semua," pungkasnya.

Rekomendasi