Bayi pengidap 'alagille syndrome' tak punya biaya untuk operasi

Bayi malang itu akan mendapat transplantasi hati dari Saryanto sang ayah, tapi tak ada biaya untuk operasi di Jepang.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Bayi pengidap 'alagille syndrome' tak punya biaya untuk operasi
Bayi kembar penderita Alagille Syndrome. ©2014 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Salah satu bayi kembar pengidap penyakit langka 'alagille syndrome' Calista Ramadani menurut rencana, akan menjalani pengobatan ke Jepang, akhir November ini. Di negeri Sakura itu, bayi putri pasangan Roberta Fani dan Saryanto, warga Tegal Mulyo, Nusukan, Banjarsari, Solo itu akan menjalani operasi transplantasi hati. Sementara kembarannya Mikaela Natania sudah meninggal akibat pendarahan di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, April lalu. Roberta Fani sang ibu kepada wartawan mengatakan, putrinya yang saat ini berusia 16 bulan tersebut akan mendapat transplantasi hati dari Saryanto sang ayah. Namun Fani masih ragu, karena untuk bisa melakukan operasi di Jepang membutuhkan biaya yang sangat besar. Sementara kondisi ekonomi keluarganya sangat tidak memungkinkan."Kami membutuhkan biaya Rp 600 juta untuk biaya operasi di luar Jepang. Biaya untuk hidup sehari-hari saja kami kekurangan, apalagi untuk berobat. Rumah kami sudah dijual, sementara dua rumah orang tua dan mertua sudah kami gadaikan untuk berobat," ujar Fani, Selasa (4/11).Menurut Fani, berbagai upaya telah dia lakukan dari rumah sakit biasa hingga rumah sakit terkenal di Jakarta, namun usahanya belum membuahkan hasil.Sementara itu kondisi Calista dari pantauan merdeka.com nampak kulit tubuhnya menguning, layaknya penderita penyakit hepatitis atau sakit kuning. Yang lebih memprihatinkan lagi jika mau minum, dia harus menggunakan selang silikon yang dihubungkan langsung ke lambung melalui hidung.

Rekomendasi