Usung fenomena nikah muda,siswa Purbalingga juara Plan Indonesia

Film ini mengangkat akar faktor penyebab remaja perempuan menikah dini karena permasalahan ekonomi & pendidikan.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
Usung fenomena nikah muda,siswa Purbalingga juara Plan Indonesia
Shooting film nikah muda pelajar Purbalingga. ©2014 Merdeka.com

Film dokumenter karya pelajar Purbalingga Jawa Tengah yang mengangkat fenomena nikah muda di kalangan remaja perempuan desa, berhasil menjadi juara dalam Kompetisi Plan Indonesia 2014. Bertajuk 'Yang Menikah Muda', film pelajar SMA Bukateja Purbalingga ini mengkritik kebijakan pemerintah daerah yang abai dalam membangun perekonomian dan pendidikan di pelosok.Sutradara film tersebut, Dinda Putri Hapsari, mengemukakan persoalan nikah muda menjadi fenomena umum di wilayah Dusun Tawang Desa Karangcegak Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga. "Lewat film ini, kami berusaha menyuarakan kondisi remaja perempuan di Purbalingga," ucap pelajar SMA Bukateja ini, Senin (13/10).Film ini mengangkat akar faktor penyebab banyaknya remaja perempuan menikah dini dengan berbagai resiko lantaran persoalan ekonomi dan pendidikan. Realita seperti ini tampaknya belum tersentuh oleh kebijakan pemerintah daerah karena kebijakan pembangunan banyak terfokus pada pembangunan fisik yang cenderung berada di pusat kota.Diakuinya, saat memproduksi film dokumenter tersebut mengalami hambatan seperti minimnya waktu yang ada. Namun, usaha mereka untuk mengangkat fenomena ini dalam film dokumenter cukup beruntung, lantaran subyek-subyek dalam film mau terbuka, bahkan terhadap persoalan-persoalan pribadi.Kompetisi Plan Indonesia 2014 mengangkat tema "Memberdayakan Remaja Perempuan: Memutus Lingkar Kekerasan". Kompetisi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Anak Perempuan yang jatuh pada 11 Oktober sekaligus upaya mengampanyekan gerakan "Because I Am A Girl" (BIAAG) di Indonesia. Pengumuman pemenang dilakukan saat perayaan International day of The Girls (Hari Internasional untuk Anak Perempuan) pada Jumat, 10 Oktober 2014 di Jakarta.Pengumuman dibacakan oleh sutradara dan produser Lola Amaria sekaligus sebagai salah satu juri di acara yang juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar.Direktur Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, Bowo Leksono berharap suara dari pinggiran ini bisa melihat sisi lain pembangunan sebuah daerah yang tidak melulu melihat dari sisi fisik saja."Tema yang diangkat pelajar ini cukup lugas untuk membuka mata pemerintah. Karena masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk membangun sisi pendidikan dan ekonomi masyarakatnya," tuturnya.

Rekomendasi