Maraknya bengkel-bengkel modern tak membuat Hardimin (47) putus asa meneruskan usahanya membuka jasa cat duco dan las ketok di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Dia justru makin semakin bekerja agar dapurnya tetap ngepul.Saat ditemui merdeka.com beberapa waktu lalu, Hardi menceritakan awal mula menjalankan usahanya ini. Dulunya dia seorang wiraswasta. Tapi kerusuhan pada Mei 1998 silam membuatnya harus banting setir karena usaha yang dibangunnya bersama beberapa rekannya terbakar.Tak ingin trauma berlarut-larut, dia coba bangkit. Dia kemudian memilih usaha cat duco dan las ketok.Meski penghasilannya pas-pasan dan tak menentu, Hardi bersyukur masih bisa menghidupkan istri dan anaknya. Dia menceritakan, bila ada konsumen yang baik pasti diberikan uang lebih. Tapi rata-rata penghasilannya per hari Rp 900 ribu.Warga Cibinong ini kini memiliki dua anak buah. Penghasilannya setiap hari langsung dibagi dua dengan anak buahnya"Yah jelas kerjaan ini. Alhamdulillah cukup ramai. Saya sih kerjanya rezeki aja," ujarnya.Dia menambahkan lokasi tempatnya membuka usaha juga cukup membantu karena tak pernah sepi lalu lintas. Dia berharap usaha ini tahan lama dan petugas Satpol PP DKI tak melakukan penertiban."Satpol PP dulu pernah ngusir kita. Alasannya sih ganggu jalanan dan bengkel-bengkel di sini pada sepi," tuturnya.
Banyak bengkel modern, Hardimin pertahankan cat duco & las ketok
Dari usahanya ini, Hardimin mengaku dapat keuntungan Rp 900.000 per hari yang dibagi-bagi dengan dua anak buahnya.
Advertisement
Rekomendasi