Menteri Siauw, istri melahirkan pun tak mau pakai mobil dinas

Menteri ini berkali-kali menekankan agar dilayani layaknya orang kere atau miskin.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Menteri Siauw, istri melahirkan pun tak mau pakai mobil dinas
Siauw Giok Tjhan. ©2014 Merdeka.com

Siauw Giok Tjan menjabat sebagai menteri urusan minoritas dalam kabinet Amir Syarifuddin di awal kemerdekaan. Walau menjabat menteri, kesederhanaan Giok Tjhan patut diacungi jempol.Jika berkunjung ke kantor kementerian atau lembaga, dia berkali-kali menekankan agar dilayani layaknya orang kere atau miskin. Dia tak mau dilayani noni-noni pejabat administrasi kenegaraan Indonesia.Jiwa nasionalisme Siauw Giok Tjhan tidak perlu dipertanyakan lagi. Sejak bergabung dengan Partai Tionghoa Indonesia (PTI), dirinya tetap konsisten dan tegas mendukung tanah kelahirannya merdeka dan lepas dari penjajahan.Dalam pergerakannya, partainya itu kerap berhubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Dr Sutomo, Mohammad Hatta, Sjahrir dan sebagainya. Bahkan, PTI sangat aktif menentang undang-undang sekolah liat bersama Ki Hajar Dewantara.Tak hanya di dunia politik, di bidang olahraga sikap nasionalismenya tetap kentara. Tjhan dikabarkan terlibat dalam aksi pemboikotan Nederland Indische Voetbaldbond (NIVB), organisasi sepakbola yang banyak didominasi orang Belanda.Aksinya dimulai saat NIVB akan menggelar pertandingan sepakbola di Surabaya. Karena dianggap lebih menguntungkan kaum penjajah, dia lantas memimpin gerakan untuk mengalihkan penonton ke Pasar Turi, di tempat itu berlangsung pertandingan yang digelar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).Meski keras dalam hal perjuangan, Tjhan tetap mengedepankan kesederhanaan. Dia juga tetap sabar kepada orang lain. Bahkan, dia pernah menolak menggunakan kendaraan Palang Biru, organisasi yang didirikannya, untuk kepentingan pribadi.Ada lagi kisah menarik soal Giok Tjhan.September 1947, istrinya Tan Gien Hwa gendak melahirkan anak ke-4 di Malang. Adik satu-satunya, Siauw Giok Bie berniat memakai mobil untuk mengantarkan Tan ke rumah sakit. Dengan tegas, Tjhan menolak permintaan itu.Penolakan itu bukan tanpa sebab, apalagi Mobil Palang Biru merupakan organisasi Angkatan Muda Tionghoa yang berdiri untuk menolong para pejuang yang terluka saat melawan agresi militer Belanda. Beruntung, sekalipun harus diantar dengan naik becak, Tan Gien Hwa bisa melahirkan Siauw Tiong Hian dalam keadaan selamat.Tahun 1946, Tjhan bergabung dengan Partai Sosialis bersama Amir Sjarifuddin, Sjahrir, dan Tan Ling Djie. Keputusannya bergabung bersama partai itu karena ia beranggapan tak perlu ada lagi partai khusus orang Tionghoa. Tjhan mengajak warga Tionghoa bergabung dan melebut langsung dalam revolusi nasional rakyat.Pada 1946, Bung Karno menunjuk Siauw sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Di sini, Tjhan makin condong ke marxisme.Giok Tjhan dianggap orang kiri. Tahun 1965 dia ditangkap Jenderal Soeharto. 10 Tahun dia dipenjara tanpa pengadilan. Tahun 1978 dia berobat ke Belanda.Sambil berobat Giok Tjhan terus berusaha mempengaruhi dunia luar untuk membebaskan tahanan politik yang ditahan Soeharto.20 November 1981, Giok Tjhan dijadwalkan berpidato soal Indonesia di Universitas Leiden. Beberapa saat sebelum berpidato dia meninggal karena serangan jantung.

Rekomendasi