Seperti apakah sosok ibu negara ideal?

Seorang yang selalu mendampingi presiden, sebaiknya menjaga perilaku dan gaya hidup.

Fikri Faqih
Oleh Fikri Faqih - Reporter
Seperti apakah sosok ibu negara ideal?
Ibu Negara. ©2014 Merdeka.com

Gaya sensitif dan mudah sewot yang diperlihatkan Ani Yudhoyono terhadap followernya di Instagram dinilai tidak pantas dilakukan oleh seorang ibu negara. Seorang istri presiden, bagaimanapun juga menjadi sosok panutan bagi rakyatnya. Lantas bagaimana sosok ibu negara yang ideal?"Walaupun bukan pejabat publik tapi dia selalu mendampingi pejabat publik, presiden. Maka seorang ibu negara memiliki peran untuk menjadi sosok panutan, karena selalu mendampingi presiden," kata Komisioner Komisi Nasional Perempuan Ninik Rahayu dalam perbincangan dengan merdeka.com, Jumat (24/1).Dia menambahkan, seorang yang selalu mendampingi presiden, sebaiknya menjaga perilaku dan gaya hidup. Karena masyarakat yang melihat ibu negara melakukan kekeliruan dapat menjadikannya contoh. "Selain itu gaya hidup dan perilaku juga harus dijaga, sebab akan menjadi panutan bagi masyarakat," ujar Ninik.Menurut Ninik, sebagai perempuan 'nomor satu' di Indonesia, ibu negara sebaiknya menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum hawa. Di mana hal tersebut dalam dilakukan dengan menjadi ketua dari organisasi perempuan, seperti Dharma Wanita dan PKK."Maka dia seharusnya bisa membuat dan memberi dukungan saat sedang ada pembahasan mengenai kepentingan perempuan. Apapun kegiatannya itu mengarah kepada pemerhatian hak asasi perempuan," ungkap Ninik.Di mata Ninik, sosok ibu negara yang paling mendekati ideal adalah Ibu Tien Soeharto. Di mana dia tidak hanya mendampingi suaminya Presiden Soeharto. Sebab beberapa langkah-langkah inisiatif dan strategis dilakukan Bu Tien semasa hidup.Ninik mencontohkan ketika Bu Tien ingin membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Walaupun mendapatkan banyak penolakan, Bu Tien tetap memperjuangkannya. Sebab alasan pembangunannya jelas, membuat miniatur Indonesia."Ibu negara harus memiliki inisiatif dan strategi. Tidak hanya kasuistik. Sebab jika sudah begitu maka akhirnya sudah pasti politis," jelasnya."Dan saat melakukan sesuatu, harus memiliki argumen yang kuat dan benar. Kalau tidak begitu maka tidak bisa mempertahankannya di depan orang lain. Kalau itu bisa, maka dia adalah ibu negara ideal," tandasnya.

Rekomendasi