Banyak dikritik, SBY curhat di depan pengusaha

SBY juga bercerita tentang banyaknya pikiran yang disampaikan dengan cara-cara emosional.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Banyak dikritik, SBY curhat di depan pengusaha
Banyak dikritik, SBY curhat di depan pengusaha

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengemukakan curahan hatinya saat menerima kedatangan pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Nasional di Istana Bogor, Jawa Barat. Ketua Umum Partai Demokrat ini mengeluhkan soal keluhan yang disampaikan masyarakat selama dia menjabat sebagai presiden.Menjelang tahun politik, SBY mengakui banyak kecurigaan terhadap sejumlah kebijakan yang diputuskan pemerintah. Bahkan, mereka menilai keputusan pemerintah tidak pro rakyat, tidak pro Indonesia dan sebagainya."Setelah pemilu selesai, sadar kita keliru kita. Karena hanya untuk meramaikan kampanye biar dianggap mereka yang paling mencintai negerinya, yang lain tidak. Sehingga solusinya pikirannya barangkali keliru dan rakyat barangkali tidak sempat katakan keliru tapi sejarah mencatat," ujar SBY di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (4/11).Selain itu, SBY juga bercerita tentang banyaknya pikiran yang disampaikan dengan cara-cara emosional. Padahal, Indonesia terus bergerak maju ke depan, karena digunakan untuk kepentingan politik, banyak yang disampaikan secara miring dan tidak sesuai dengan kenyataan."Bisa jadi untuk kepentingan politik, kepentingan pilpres. Yang diceritakan sesuatu yang emosional, kurang rasional. Sehingga orang yang berpikir jernih tidak dapat tempat, takut dianggap tidak pro rakyat, tidak nasional, dan sebagainya," keluh SBY.Dengan sisa masa jabatannya yang hanya setahun mendatang, SBY mengakui akan kembali menjadi warga biasa. Namun, ia menyampaikan bahwa pasar nasional tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pasar, sebab banyak kegagalan yang terjadi di dalamnya.Tak hanya itu, kapitalisme pasar yang juga menjadi pegangan ekonomi di negara-negara barat dinilainya tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Sebab, sistem tersebut tidak memberikan unsur keadilan bagi para pelakunya."Saya pegang teguh keyakinan bahwa pilihan ekonomi jangan sepenuhnya diserahkan ke pasar. Pasar sering tidak sempurna, terbukti di mana-mana gagal. Kapitalisme pasar sering sering tidak melihat unsur keadilan," paparnya disambut tepuk tangan.Dia menambahkan, "Tapi pasar bikin ekonomi efisien. Kalau pasar bagus, monopoli tidak dapat ruang yang subur dan kalau pemerintah mengatur segalanya belum tentu baik juga. Oleh karena itu perlu kepatutan di mana pemerintah mendorong, membantu, menciptakan regulasi dan infrastruktur, tapi kita juga analisis, kalau pasar tidak melakukan, ya kita harus sama-sama melakukannya," pungkas SBY.

Rekomendasi