KBRI Canberra memutar film dokumenter "Indonesia Calling 1946”, yang dihadiri oleh kalangan pemerintah, akademik dan masyarakat Australia serta masyarakat Indonesia di Canberra dan sekitarnya, pada peringatan Sumpah Pemuda, Senin (28/10) kemarin.
Film dokumenter yang menceritakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Australia tersebut diluncurkan pada tahun 1946 oleh seorang warga Belanda yaitu Joris Ivens.Acara dibuka oleh Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema, dan pada sambutannya disampaikan bahwa film Indonesia Calling 1946 telah menggambarkan semangat kerja sama yang muncul secara spontan pada saat pemuda Indonesia membutuhkan dukungan pada awal kemerdekaan Indonesia dan rakyat Australia menjawab dengan dukungan dan bantuan yang luar biasa kepada rakyat Indonesia. Sepenggal catatan sejarah ini belum banyak diketahui masyarakat Indonesia maupun Australia.Film tersebut menggambarkan perjuangan kemerdekaan masyarakat Indonesia di Australia terhadap pemerintah Belanda yang melalui pelabuhan-pelabuhan di Australia hendak mengirimkan pasukan dan senjata untuk menjajah kembali Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 maka rakyat Indonesia, yang dibawa Belanda ke Australia setelah Jepang merebut Hindia Belanda pada Perang Dunia II, melakukan aksi demonstrasi dengan menolak bekerja dengan pihak Belanda, baik dari kalangan buruh, pelaut, maupun tentara yang telah dilatih oleh pemerintah Belanda. Dengan dukungan kuat dari publik Australia serta Australian Waterside Workers Union, buruh dan para pelaut Indonesia, China, India berhasil memboikot kapal-kapal Belanda ke Indonesia, yang dikenal sebagai "The Black Armada". Selama beberapa tahun upaya pemboikotan tersebut berhasil menahan ratusan kapal Belanda ke Indonesia.Usai pemutaran film, acara berlanjut dengan diskusi panel yang menghasilkan diskusi yang interaktif mengenai pembahasan dukungan pekerja dan buruh serta masyarakat Australia di awal kemerdekaan Indonesia. Diskusi dipimpin oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Prof Ronny Rachman Noor dengan para panelis Prof Anthony Reid dari Australian National University dan Kresno Brahmantyo, pengajar bidang sejarah di Universitas Indonesia, serta Anthony Liem, narasumber untuk film tersebut.