Ketika TB Simatupang Singgung 'Politik Gila' ala Belanda

Hatta menjawab ada kemungkinan Belanda bakal menyerang. Akan tetapi surat menyurat dengan wakil Amerika Serikat di KTN belum terputus. Secara politis, Belanda tidak dapat memulai serangan selama surat-menyurat (hubungan) melalui wakil Amerika Serikat di KTN belum putus.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Ketika TB Simatupang Singgung 'Politik Gila' ala Belanda
Pembicaraan Jenderal S.H. Spoor dengan Perdana Menteri Dr. L.J.M Beel. Penerbit Sinar Harapan©2023 Merdeka.com

Sore hari pada 18 Desember 1948. TB. Simatupang berangkat ke Kaliurang. Tujuannya bertemu Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk menanyakan terkait Radio Jakarta yang menyiarkan bahwa besok Perdana Menteri Beel akan mengucapkan pidato penting.

Simatupang gusar. Sebab, setelah Letnan Gubernur Jenderal Belanda Van Mook mengucapkan pidato penting, pasukan Belanda memulai serangan pada malam hari. Simatupang bertanya kepada Hatta apakah ada kemungkinan Belanda akan menyerang setelah PM Beel mengucapkan pidato pada 19 Desember 1948.

Hatta menjawab ada kemungkinan Belanda bakal menyerang. Akan tetapi surat menyurat dengan wakil Amerika Serikat di KTN belum terputus. Secara politis, Belanda tidak dapat memulai serangan selama surat-menyurat (hubungan) melalui wakil Amerika Serikat di KTN belum putus.

"Penyerangan Belanda dalam keadaan seperti itu merupakan politik gila, demikian pendapat di kalangan politik," ungkap TB Simatupang dalam buku Laporan dari Banaran.

Jika nekat melakukan serangan (Agresi Militer), Belanda harus menanggung konsekuensi dari campur tangan internasional. Menurut pembicaraan antara Simatupang dan Hatta, Agresi Militer merupakan penghinaan terhadap Amerika Serikat, bila Belanda mulai serangan tatkala surat menyurat dengan perantaraan wakil Amerika Serikat Belum diputuskan.

"Sebagai suatu negara yang kecil dan bergantung pada bantuan Amerika untuk pembangunan kembali negaranya sesudah perang. Pada aksi militer kedua, Belanda tidak akan tahan terhadap tekanan internasional," seperti dikutip dalam buku Renville karya Ide Anak Agung Gde Agung.

Amerika Serikat mulai terlihat mendukung Republik Indonesia untuk mencapai penyelesaian dengan Belanda. Amerika Serikat yakin Indonesia bukan dalang di balik Pemberontakan PKI Madiun 1948 seperti yang selalu dipropagandakan Belanda.

"Dari hubungan-hubunganku dengan delegasi Amerika dan dengan wakil-wakil resmi dari Amerika dan Inggris, belakangan ini aku mendapat kesan yang lebih kuat, bahwa kalangan ini, akan membantu pemerintah Hatta, dengan segala upaya dan berapapun mahal harganya," tulis Delegasi Belanda kepada Menteri Wilayah Seberang Lautan Elink Schuurman.

Dukungan Amerika Serikat terhadap Republik Indonesia memiliki tiga tujuan, yakni agar Republik Indonesia menjadi pangkalan terhadap komunisme, memulai mengadakan stabilitas politik, dan merampas kesempatan dengan membuat Belanda tidak mempunyai alasan untuk mengadakan aksi polisionil.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda ternyata benar-benar melakukan Agresi Militer. Tujuannya menduduki Ibukota Republik Indonesia dan menahan para pemimpinnya.

Belanda mulai menyerang Pangkalan Udara Maguwo pada pukul 07.00. Setengah jam kemudian, Pangkalan Udara Maguwo berhasil dikuasai Belanda. Setelah menguasai Pangkalan Udara Maguwo, pasukan Belanda mulai masuk ke Ibukota Yogyakarta. Akhirnya, pada pukul 17.00 tempat-tempat penting di Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda.

"Dalam operasi yang disusun oleh Panglima Angkatan Perang Belanda, disebutkan bahwa tugas pokok ialah secepatnya menghancurkan pimpinan Angkatan Perang RI di Yogyakarta, menghancurkan pusat-pusat kekuatan lawan, serta menduduki titik-titik penting untuk memudahkan pembersihan sisa-sisa kekuatan lawan,” seperti dikutip dalam buku Renville karya Ide Anak Agung Gde Agung.

Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki

Rekomendasi