Perjalanan benda curian dari museum hingga kolektor

Kasus pencurian di museum Indonesia bukan pertama kali terjadi. Seringkali kasusnya tak terungkap.

Ramadhian Fadillah
Oleh Ramadhian Fadillah - Reporter
Perjalanan benda curian dari museum hingga kolektor
Museum Gajah. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Empat lempengan emas abad 10 masehi diketahui hilang dari Ruang Khasanah Emas di Museum Nasional atau Museum Gajah, Jakarta. Kasus pencurian di museum Indonesia bukan pertama kali terjadi. Tahun 2010 lalu, koleksi emas museum Sonobudoyo Yogyakarta juga raib digondol maling. Sebelumnya Pada 31 Mei 1961, pencuri kelas kakap Kusni Kasdut menggondol sedikitnya 11 permata dan sejumlah emas koleksi museum.Di tahun 1979, Museum Gajah kembali kecolongan. Kali ini yang menjadi sasaran adalah ruang numismatik dan heraldik. Hasilnya, sejumlah koleksi uang logam hilang dibawa kabur.Di tahun 1995, Museum Gajah kembali menjadi incaran pencuri. Banyak lukisan bernilai sejarah tinggi lenyap, seperti karya Raden Saleh, Affandi dan Basoeki Abdullah. Lukisan karya seniman besar ini, akhirnya diketahui sedang dilelang di Singapura.Perlu proses panjang untuk menjual barang tersebut hingga sampai ke tangan kolektor. Pelaksana lapangan atau pencuri di museum biasanya mendapat bagian yang paling sedikit. Mereka seringkali bukan otak pencurian, tetapi diiming-imingi dengan bayaran tertentu."Dugaan kita sering kali pencurian ini melibatkan orang dalam museum. Penjaga atau petugas museum. Mereka yang paling mudah karena punya akses," kata koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya Jhohanes Marbun kepada merdeka.com, Jumat (12/9).Joe, panggilan akrabnya, menambahkan untuk kasus emas yang dicuri misalnya, eksekutor lapangan paling hanya mendapat beberapa puluh juta dari setiap benda. Biasanya dihitung dari jumlah gram emas, ditambah nilai sejarah dan tingkat kesulitan saat mencuri.Setelah eksekutor biasanya ada penampung. Penampung ini yang akan menghubungi kolektor. Tapi bisa juga ada penampung di atas penampung. Makin ke atas, harga barang curian ini akan semakin mahal. Biasanya jika ada barang semacam ini akan ditawarkan dari mulut ke mulut lewat pasar gelap. Di pasar gelap orang tak peduli asal barang, yang penting nilai sejarahnya."Untuk koleksi emas di Museum Sonobudoyo, itu kami perkirakan harga satu barangnya bisa Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar," jelasnya.Dulu lukisan Museum Gajah sempat ditemukan hendak dijual di Balai Lelang Singapura, apakah semua barang bersejarah akan dijual ke luar negeri?"Belum tentu. Pasar Indonesia pun cukup terbuka. Banyak kolektor di dalam negeri yang melihat-lihat jenis barang tertentu," kata Joe.Joe pun berharap pemerintah serius menangani masalah benda bersejarah dan cagar budaya. Kalau dibiarkan keamanan museum terus seperti ini, bukan tidak mungkin semua koleksi benda bersejarah di Indonesia akan habis dicuri.

Rekomendasi