Menjadi seorang 'manusia gerobak' memang penuh risiko. Belum lagi pendapatan yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Mendorong gerobak di tengah teriknya panas matahari dan basah kuyup ketika hujan lebat adalah hal yang biasa. Hal yang tidak biasa barangkali ketika berurusan dengan Satpol PP. Jika sudah diamankan, 'polisi' Pemprov DKI itu, otomatis periuk nasi terganggu.Herman, seorang manusia gerobak, yang biasa memarkirkan gerobaknya di sebuah flyover di Jakarta Timur, mengatakan pendapatan yang dia dapat tidaklah tentu. Semua tergantung dari gelas dan botol plastik bekas air mineral yang berhasil dia kumpulkan.“Gak tentu pendapatannya, kadang dapat 2 kg kadang 3 kg. Iya kalau diduitin sih paling Cuma Rp 15 ribu,” ujar Herman (70) saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.Herman mempunyai sumber mata pencaharian lain di luar mengumpulkan gelas dan botol plastik bekas air mineral. Bersama istrinya Sumiati (72), Herman terkadang turun membersihkan kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), tempat dirinya biasa mangkal.“Ketika saya bersihkan (BKT) ada saja yang kasih entah Rp 5 ribu ada pula yang mengasih kami berdua makanan,” ucapnya.Dibanding Herman, pendapatan Pono (32), 'manusia gerobak' lainnya, lebih besar. Ini lantaran Pono mengumpulkan barang bekas dari berbagai jenis, bukan hanya dari botol dan gelas plastik saja.“Saya sih biasanya cari barang-barang bekas, entah botol plastik, gelas plastik, kardus bahkan kertas pun saya ambil. Kalau sehari sih biasanya dapat minimal 10 kilogram seharga Rp 50 ribu,” jelasnya.Ketika disinggung pendapatan paling banyak dalam sehari, ayah dua orang anak tersebut mengaku malu-malu menyebutkan angkanya.“Aduh gimana ya Mas. Kalau buat makan cukuplah Mas sehari paling besar Rp 80 ribu, paling kecil Rp 40 ribu,” pungkasnya.
Pendapatan dan hidup tak tentu 'manusia gerobak
"Saya sih biasanya cari barang-barang bekas, entah botol plastik, gelas plastik, kardus bahkan kertas pun saya ambil."
Rekomendasi