Cerita arogansi pejabat, main pukul saat naik pesawat

Jabatan tinggi bukan berarti tata krama dan etikanya tinggi. Kasus ini yang terjadi pada beberapa pejabat Indonesia.

Ramadhian Fadillah
Oleh Ramadhian Fadillah - Reporter
Cerita arogansi pejabat, main pukul saat naik pesawat
Ilustrasi Pesawat. Ilustrasi shutterstock.com

Jabatan tinggi bukan berarti tata krama dan etikanya juga tinggi. Kasus ini yang terjadi pada beberapa pejabat di Indonesia.Seenaknya saja mereka main pukul saat keinginannya tak dituruti di bandara. Para pejabat ini agaknya lupa naik pesawat tentu berbeda dengan naik bus. Tak boleh merokok, ada jadwal ketat dan ada aturan keselamatan penerbangan.Anggota Komisi V DPR, Saleh Husin mengecam aksi kekerasan yang dilakukan oleh pejabat pada pramugari atau kru pesawat. Apalagi seorang pejabat seharusnya tahu tak boleh menyalakan HP di pesawat. Sinyal HP dapat mengganggu radio dan frekuensi penerbangan."Hal itu sudah sangat keterlaluan," kata Saleh Husin di DPR beberapa waktu lalu.Berikut tiga pejabat arogan yang main pukul saat mau naik pesawat.

Seorang pramugari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Febriyani dipukul oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Daerah Provinsi Bangka-Belitung Zakaria Umarhadi. Zakaria merasa tersinggung diminta mematikan telepon selulernya saat di pesawat.Aksi pemukulan tersebut terjadi Rabu (5/6) malam setelah pesawat dengan nomor penerbangan SJ 087 mendarat di Bandara Depati Amir, Bangka.Setelah pesawat mendarat, Zakaria yang diduga tidak terima dengan peringatan Febri mengejar dan memukulnya dengan koran yang digulung."Saat pesawat landing, dia masih belum terima, nyamperin pramugari pakai koran mukul pramugari kita kena bagian pipi kiri," kata Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air, Agus Soejono.Polisi sudah menetapkan Zakaria sebagai tersangka dalam kasus ini."Sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujar Kabid Humas Polda Kepulauan Bangka Belitung AKBP Indra, saat dihubungi merdeka.com, Jumat (7/6).

Plh Sekretaris Daerah Papua Barat IH, dilaporkan ke polisi karena memukul pegawai perusahaan penerbangan Wings Air, Eka Hendrawan (33 th).Insiden yang terjadi Jumat (6/6) itu berawal saat Plh Sekda Papua Barat hendak terbang dari Manokwari dengan menggunakan pesawat Wings Air. Demikian dikutip dari antara.IH diberi nomor kursi 13 oleh petugas Wings Air yang ada di Bandara Rendani, Manokwari. Namun saat naik ke pesawat ternyata kursi dengan no 13 tidak ada sehingga oleh pramugari diminta untuk mengisi kursi lainnya yang kosong. IH tidak terima sehingga pramugari memberitahu petugas di darat tentang insiden tersebut.Setelah menerima laporan tersebut, Eka Hendrawan yang juga bertugas di bandara naik ke pesawat dan meminta maaf kepada IH. Namun IH tidak terima dan marah-marah. Dia kemudian memukul muka Eka sebanyak lima kali. Bibir Eka luka-luka. Kasus ini pun ditangani polisi.

Peristiwa pemukulan terjadi di Apron 1 Bandara Wamena, pada Minggu (7/7) sekitar pukul 17.45 WIT. Kronologisnya saat itu Pesawat Walesi Air dipaksa untuk berangkat ke Jayapura Oleh pejabat penting di daerah itu, namun pilot Walesi Air tidak bersedia karena pegawai ATC (Apron) atas nama Edi Yohanes Purba (29) tidak bersedia memandu penerbangan tersebut.Pegawai apron tersebut berusaha memberikan penjelasan bahwa sudah di luar jam penerbangan atau sudah malam. Tetapi pejabat penting itu, tidak terima penjelasan tersebut dan langsung memukul serta menendang Edi Purba.Melihat kejadian tersebut, Kepala Bandara Wamena, Junikar Pakondo berusaha melerai dan menanyakan masalah yang terjadi, namun ia justru ikut menjadi korban pemukulan.Pegawai bandara Wamena pun mogok memprotes tindakan ini. Mereka meminta kasus ini diselesaikan secara hukum.

Baca juga:

Salah kursi, PLh Sekda Papua Barat hajar karyawan Wings Air

Kepala Bandara dipukul pejabat, Bandara Wamena berhenti operasi

4 Kasus pejabat arogan dua pekan terakhir

Rekomendasi