Di tempat relokasi nasib pengungsi Syiah Sampang pun tak jelas

Pemerintah lebih memilih memaksa relokasi ketimbang mengupayakan rekonsiliasi.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Di tempat relokasi nasib pengungsi Syiah Sampang pun tak jelas
Pengungsi Syiah di Sidoarjo. ©2013 Merdeka.com

Kemarin, sebanyak 160-an warga Syiah Sampang yang mengungsi di GOR Indoor Tenis, Sampang, Madura diusir dari tempat pengungsian. Mereka diangkut paksa keluar Madura, pukul 13.00 WIB, kemudian di tempatkan di rusunawa, Puspo Agro, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.Direktur Eksekutif Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia (YLBHU), Hertasning Ichlas terdengar geram mengomentari masalah itu. Herta, demikian dia disapa, selama ini memang dikenal sebagai pendamping warga Syiah Sampang sejak bentrokan meletup 2012 lalu."Telah terjadi pemaksaan. Mereka (pengungsi Syiah) diangkut paksa ke rusunawa Puspo Agro Sidoarjo. Ini tindakan terencana. Karena pengusiran itu dipimpin langsung oleh Wakil Bupati dan Kesbangpol," kata dia kepada merdeka.com, Kamis (20/6).Menurut Herta, aparat bukanya melindungi para pengungsi. Mereka malah datang memaksa, dan mengobrak-abrik barang-barang para pengungsi. Pengangkutan paksa itu jelas melawan keinginan pengungsi yang ingin kembali ke kampung halaman."SBY gagal melindungi warganya. Pemerintah lebih memilih memaksa relokasi ketimbang mengupayakan rekonsiliasi. Pemerintah sendiri yang bikin mereka tidak aman, itu gila," kata dia.Lalu bagaimana dengan alasan keamanan yang dilontarkan pemerintah? Herta menjawab, mayoritas warga Sampang menerima kehadiran orang-orang itu, terutama mereka yang masih memiliki hubungan kerabat. Tapi karena desakan para kiai, tokoh masyarakat, dan orang-orang yang berseberangan dengan Tajul Muluk, Pimpinan Syiah, akhirnya pengikut Tajul Muluk diusir. Sebelumnya, Iklil Almilal, Adik Tajul Muluk diangkut bersama Ibu dan adiknya memakai ambulance. Sementara warga lain, bersama anak-anak diangkut ke Sidoarjo memakai truk polisi.Menurut Iklil, sebenarnya malam sebelum mereka diangkut sudah ada kesepakatan dengan polisi. Katanya, polisi bakal melindungi mereka di dalam Gor, dan tidak bakal di pindahkan. Namun siang hari kesepakatan itu berubah. Mendadak polisi datang, memaksa warga pindah.Alasannya, lanjut adik Pimpinan Syiah Sampang Tajul Muluk ini, ada ribuan warga berada di luar GOR siap menyerang mereka bila tidak keluar dari Sampang. Guna menghindari konflik, polisi mengaku harus segera melindungi mereka dengan cara merelokasi.Iklil sempat mengajukan syarat. Bila memang mereka hendak direlokasi keluar Madura, maka harus ada batasannya. "Katanya ini relokasi sementara. Tapi kok tidak ada batasannya, dari tanggal berapa sampai kapan. Kami kan butuh kepastian seperti itu," ujarnya.Karena diusir paksa, mereka belum memiliki rencana hidup di pengungsian. Begitu juga dengan biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah anak, dan pekerjaan warga, Iklil mengaku tidak tahu kehidupan ke depan seperti apa. "Kami sebenarnya ingin balik ke kampung lagi, tapi dilarang."

Rekomendasi