Sebanyak 42 anak-anak keluarga pengungsi Syiah Sampang, Madura, sulit mendapatkan pendidikan. Anak-anak tersebut hingga kini masih berada di pengungsian karena belum ada solusi jitu dari pemerintah."Minta tolong pendidikan anak saya, minta tolong perlindungan. Segera dipulangkan juga. Anak-anak di sana sudah sembilan bulan tidak punya pendidikan sama sekali," kata Muhammad Rosyid, seorang warga Syiah saat mengadu di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta Pusat, Selasa (18/6).Rosyid menambahkan dari 42 anak tersebut, sebagian masih duduk di sekolah dasar. Sementara yang lainnya adalah balita atau anak sudah cukup umur untuk memasuki pendidikan TK."Namun karena terlantar, mereka tidak bersekolah lagi dan sudah tidak ada guru yang datang ke tempat pengungsian," ujarnya.Rosyid juga mengeluhkan mengenai minimnya fasilitas melahirkan bagi ibu hamil. Untuk melahirkan saja, ibu hamil pengungsi Syiah dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil patroli polisi."Tidak ada perlakuan khusus untuk anak kecil. Makanan dipukul dengan rata dengan dewasa. Tidak ada kebutuhan tambahan," tuturnya.Puluhan pengungsi Syiah itu pun berharap KPAI bisa mendesak pemerintah agar memberikan pendidikan kepada anak mereka. "Kami juga berharap KPAI mampu membantu memulangkan mereka ke desa asalnya," terangnya.
Sudah 9 bulan, 42 anak pengungsi Syiah tidak dapat pendidikan
Rosyid menambahkan dari 42 anak itu sebagian masih duduk di sekolah dasar, sebagian usianya sudah masuk TK.
Rekomendasi