Banyak anak di Solo belajar merokok sejak SD

Ribuan warga menggelar kampanye anti merokok, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Banyak anak di Solo belajar merokok sejak SD
demo antirokok di solo. ©2013 Merdeka.com

Memperingati 3 tahun car free day (CFD), ribuan warga menggelar kampanye anti merokok, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Minggu (2/6). Selain mengajak warga untuk tidak merokok, mereka juga mengimbau kepada warga agar tidak merokok di sembarang tempat, karena bahaya asap yang ditimbulkan sama dengan perokok aktif. Himbauan tersebut mereka tuangkan di berbagai poster, leaflet dan spanduk.Salah satu peserta dari RSI Kustati melakukan aksi unik. Dalam aksi yang mereka namakan 'layatan pencabut nyawa' tersebut mereka melakukan aksi teatrikal mencabut nyawa perokok yang sudah kronis. Bahkan mereka mendatangkan malaikat pencabut nyawa. Kemudian mayat yang mereka presentasikan sebagai rokok raksasa, diarak di area CFD sambil dilakukan tabur bunga."Kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa merokok itu bisa menggerus nyawa, pemborosan, juga membuat paru-paru bolong. Di rumah sakit kami, banyak pasien pelaku-pelaku perokok yang sekarang menyesali perbuatannya, setelah mengerti akibat yang ditimbulkan," ujar Fitri, bagian humas RSI Kustati, Solo.Pantauan merdeka.com selain menggelar orasi dan teatrikal, peserta dari Dinas Kesehatan Kota (DKK), juga mengadakan, konsultasi berhenti merokok, secara gratis di bawah jembatan Sriwedari.Kepala DKK Kota Solo, Siti Wahyuningsih mengatakan, seluruh elemen masyarakat yang peduli dengan kesehatan, rumah sakit, dan kalangan kampus di Solo."Kita barengkan acara memperingati hari anti tembakau sedunia ini, dengan peringatan 3 tahun CFD. Kita juga mengkampanyekan kepada masyarakat, tentang dampak buruk asap rokok," katanya.Siti menyebut di Solo, meskipun Perda Anti Merokok sudah diberlakukan, namun jumlah perokok masih sangat tinggi. Bahkan pihaknya menemukan di Kelurahan Mojosongo, Banjarsari jumlah perokok dari kalangan anak Sekolah Dasar mencapai 60% persen. Temuan tersebut tentu sangat memprihatinkan."Kita akan lebih banyak melakukan sosialisasi tentang bahaya merokok ini. Tidak hanya di kalangan dewasa, tapi juga pelajar," pungkasnya.

Rekomendasi