Mahasiswa pengasap rektorat terancam sanksi akademik

Koordinator Save Soedirman, Munirah Dinayati mengatakan, sejak awal mereka tahu risiko akan gerakan mereka.

Slamet Nusa
Oleh Slamet Nusa - Reporter
Mahasiswa pengasap rektorat terancam sanksi akademik
Mahasiswa pengasap rektorat terancam sanksi akademik

Aksi mengasapi gedung Rektorat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto oleh mahasiswa yang tergabung dalam Save Soedirman berbuntut panjang. Selain melaporkan ke kepolisian, rektorat juga mengancam akan memberikan sanksi akademik terhadap mahasiswa."Sesuai etika dalam pergaulan di kampus, nanti ada sanksi ringan, berupa teguran lisan dan tertulis, tidak diperkenankan mengambil mata kuliah, paling berat skorsing," kata Pembantu Rektor III Unsoed, Imam Santosa, Jumat (3/5).Menurutnya, Unsoed mempunyai aturan tentang tata tertib kemahasiswaan. Aturan itu berisi tentang etika pergaulan di kampus.Imam mengatakan tak akan gegabah untuk mengeluarkan mahasiswanya dari kampus. "Mereka anggota keluarga besar Unsoed," katanya.Sementara itu, Kepala Kepolisan Resor Banyumas, Ajun Komisaris Besar Dwiyono mengatakan, tidak ada yang ditahan dalam peristiwa kemarin. Pihak masih sebatas menyelidiki kasus pengasapan Gedung Rektorat itu.Ia mengatakan, tiga orang saksi sudah memberikan keterangannya. Pada pemeriksaan itu, mahasiswa menunjukkan struk pembelian petasan asap yang selama ini banyak digunakan oleh suporter sepak bola. Petasan asap yang digunakan mahasiswa legal dan dijual bebas di pasaran.Koordinator Save Soedirman, Munirah Dinayati mengatakan, sejak awal mereka tahu risiko akan gerakan mereka. "Kami siap dengan resiko apapun, toh ini demi transparansi keuangan Unsoed dan agar pendidikan bisa diakses oleh siapapun," katanya.Ia menambahkan, sudah setahun lebih Save Soedirman melakukan riset tentang Uang Kuliah Tunggal. Menurut dia, seharusnya kuliah di Unsoed bisa lebih murah jika penghitungan UKT tidak ngawur.Save Soedirman, kata dia, menemukan banyak penganggaran ganda di keuangan Unsoed. Selain itu, penghitungan biaya unit juga banyak yang meleset.Selain akan meminta bantuan Komisi Informasi Publik agar Unsoed membuka buku keuangan mereka, mereka juga berniat melaporkan indikasi korupsi ke kejaksaan. "Kami sadar, sekarang banyak yang menyerang kami. Tapi tekad kami sudah jelas, kami ingin kampus yang kami cintai bebas dari korupsi dan biaya kuliah murah," kata dia menambahkan.Soal insiden pengasapan dengan petasan, kata dia, hal itu merupakan rangkaian panjang kebuntuan pembahasan UKT. Terlebih lagi saat penetapan, Save Soedirman tidak dilibatkan.Perlawanan mahasiswa menolak nominal UKT sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Pada 12 Desember 2012, sekitar 1.500 mahasiswa menggelar aksi damai menduduki Gedung Pusat Administrasi selama lima hari.Lalu pada 17 Desember, Rektor Unsoed Edy Yuwono menandatangani perjanjian bermaterai yang isinya akan melibatkan mahasiswa dalam penyusunan UKT. Namun, secara sepihak pada 15 April lalu, rektorat menetapkan UKT yang nominalnya antara Rp 2,4 juta hingga Rp 15 juta.Setelah itu, mahasiswa melayangkan somasi pada rektorat tertanggal 29 April. Somasi tak dijawab sehingga mahasiswa menumpahkan kekesalannya dengan mengasapi rektorat.

Rekomendasi