Keluarga pasangan Ali Zuar dan Mayarni, warga Jalan Haji Suaib Gang Damai Nomor 6B RT 10/ RW 03, Petukangan, Jakarta Selatan itu begitu sedih karena harus kehilangan buah hatinya yang kedua bernama Upik. Balita itu meninggal kemarin di Rumah Sakit Bersalin Kartini di Jalan Ciledug Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.Keluarga menduga pihak rumah sakit salah memvonis anaknya, lantaran saat usai persalinan anaknya tersebut dinyatakan meninggal dunia. Namun saat dibawa ke rumah, Upik nama bayi malang itu ternyata masih berdetak jantungnya dan bernapas."Anak saya divonis sudah meninggal oleh Rumah Sakit tapi pas kami bawa rumah rupanya masih hidup," kata Ali saat ditemui di kediamannya, di Jalan H Suaib, Kebayoran Lama, Kamis (21/2).Ali menjelaskan, kabar duka itu terjadi pada Rabu (20/2) menjelang sore kemarin sekitar pukul 14.25 WIB. Sang istri Maryani melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan yang diberinama Upik dengan berat 1 kilogram di RS Kartini. Upik lahir dalam usia kandungan 24 minggu dan lahir dalam kondisi prematur.Melihat kondisi tersebut, Upik kemudian dibawa ke ruang khusus oleh suster yang membantu proses persalinan. Namun tidak berselang lama, anak ke-2 dari Ali zuar itu divonis meninggal dunia."Saya lihat dada anak saya naik turun, masih bernapas," ujarnya.Dengan langkah berat, Ali kemudian meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 15.15 WIB sore untuk menggendong anaknya tersebut dimakamkan. Dengan menggunakan sepeda motor, Ali membawa Upik dengan dibungkus kain putih dari rumah sakit tempat istrinya melakukan persalinan.Tetangganya, yang sudah mendengar kabar duka dari keluarga Ali langsung mendatangi kediamannya. Dengan tetesan airmata, Upik diturunkan dari gendongannya untuk langsung dimandikan agar bisa dimakamkan sore kemarin di pemakaman tidak jauh dari kediamannya. Namun kejadian aneh justru muncul, jantung Upik masih berdetak dan bernapas serta mengerang-ngerang dengan kondisi tubuh membiru.Ali berserta tetangganya kaget melihat kejadian itu, Ketua RT bernama Ridwan yang hadir di rumah duka langsung berlari menuju rumah tetangganya untuk mengambil tabung oksigen kecil yang berprofesi sebagai terapis kesehatan."Saya langsung siapkan air hangat agar anak saya tidak kedinginan," papar Ali.Dengan bantuan para tetangganya, sekitar pukul 20.00 WIB Upik kembali dibawa ke RSB Kartini. Namun saat tiba di rumah sakit, bukannya pertolongan yang didapat Ali. Salah seorang petugas pihak rumah sakit malah meminta Rp 15 juta sebagai uang muka sebagai rujukan untuk ke rumah sakit lain.Setelah menunggu untuk negosiasi, akhirnya Upik mendapatkan pertolongan. Namun nasib berkata lain, sekitar pukul 23.00 WIB Upik akhirnya meninggal dunia. Pihak rumah sakit pun membuat surat kematian kembali untuk Upik dengan jam yang berbeda dan langsung ditandatangani oleh pihak rumah sakit."Saya diminta uang DP kalau mau dirujuk ke rumah sakit lain," ujarnya.Terkait kematian Upik, pihak RSB Kartini membantah bahwa pihak rumah sakit melakukan malpraktek. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa Upik memang dilahirkan dalam kondisi tidak sempurna. Dijelaskan oleh Elmira Sukmawati Direktur RSB Kartini, bahwa selain Upik dilahirkan dalam kondisi tidak sempurna, ibunya juga memiliki riwayat persalinan yang buruk.Dia menjelaskan, pada tahun 2012 lalu pernah mengalami kejadian serupa saat melahirkan bayi laki-laki. Bayi tersebut mengalami Partus Immaturus (terlahir prematur karena melahirkan dalam usia kandungan yang begitu muda sekitar usia kandungan 20-28 minggu). Sedangkan Upik diketahui lahir di usia kandungan 22 minggu."Dulu ibu bayi pada 2012 pernah mengalami gangguan serupa," jelas Elmira.Dijelaskan Elmira, bayi yang terlahir pada usia kandungan tersebut dan dilahirkan dalam kondisi prematur hanya memiliki kesempatan untuk hidup kecil. Sementara Upik diketahui memiliki kesusahan untuk hidup. Saat dilahirkan, Upik hanya bernapas satu, sedangkan detak jantungnya lemah dan kondisi badannya berwarna biru."Upik Napasnya satu-satu, detak jantungnya lemah dan warnanya biru," jelas Elmira.Elmira membantah bahwa pihak rumah sakit telah menelantarkan Upik hingga akhirnya meninggal. Dia juga membantah bahwa pihak rumah sakit meminta uang muka untuk rumah sakit yang dirujuk oleh RSB Kartini. Dia mengatakan, bahwa RSB Kartini telah menghubungi rumah sakit rujukan yang memiliki alat NICU mengingat Upik harus segera ditolong."Bayi tersebut butuh NICU sedangkan kami tidak punya," ujarnya.
RS vonis Upik meninggal, sampai rumah jantungnya berdetak lagi
Upik kemudian dibawa ke rumah sakit lagi, tapi nyawanya tidak tertolong.
Advertisement
Rekomendasi