Cerita situs bersejarah Watugong yang 'dimakan' McDonald's

Situs itu berada di parkir belakang pojok kanan, tepat di samping musala milik restoran cepat saji tersebut.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cerita situs bersejarah Watugong yang 'dimakan' McDonald's
Letak situs purbakala Watu Gong yang tersembunyi.. ©2012 Merdeka.com

Situs bersejarah Ketawanggede, dikenal juga dengan nama situs Watugong yang berlokasi di kawasan Dinoyo, Kota Malang, Jawa Timur, kini tersembunyi di antara bangunan resto cepat saji McDonald's. Sulit mengenali situs itu karena tertutup pakar tembok melingkar.Keberadaan situs purbakala yang dibangun pada era Megatilikum itu terkuak setelah sejarawan dan arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono secara diam-diam mencari lokasi situs yang pernah disebutkan dalam buku sejarah kuno. Tanpa sengaja, dia melihat bangunan seperti cungkup di areal parkir belakang McDonald's. Ternyata itu adalah situs bersejarah yang dicarinya.Situs Purbakala Watugong berada di wilayah Kelurahan Ketawanggede, Malang, Jawa Timur. Lokasinya kini berada di lahan milik McDonalds. Tepatnya di parkir belakang pojok kanan, tepat di samping musala milik restoran cepat saji tersebut. Situs itu dikelilingi oleh tembok yang berukuran sekitar 5x5 meter. Situs tersebut pagarnya digembok dan kunci dipegang oleh pihak McDonalds. Saat merdeka.com berkunjung ke sana, petugas keamanan McDonalds mau membukakan pintu pagar situs purbakala tersebut. Di bangunan itu terdapat belasan batu-batu yang berbentuk menyerupai Gong, salah satu alat musik gamelan, yang bercampur dengan batu-batu biasa di sekitar lokasi. Selain itu terdapat 3 batu besar berbentuk kubus dengan lubang di tengahnya.

Petugas keamanan itu rupanya warga asli Ketawanggede yang mau berbagi cerita seputar situs Watugong itu. Pria berusia 30 tahunan itu mengatakan bahwa situs purbakala tersebut merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan. Dia juga mengatakan dulu sebelum dibangun MCDonalds, batu-batu purbakala itu ditempatkan di dua bangunan yang bersebelahan, di mana salah satu bangunannya kini dibongkar dan dibuat musala. Selain batu-batu berbentuk gong, dulu ada sebuah patung kecil yang sekarang kabarnya telah dipindah dan disimpan di Gedung Kelurahan Ketawanggede. Puluhan tahun lalu, sebelum kawasan itu menjadi padat penduduk karena dibangun Universitas Brawijaya, batu-batu purbakala itu berserakan di pinggir-pinggir jalan tak terhitung jumlahnya. Menurut petugas keamanan MCDonalds itu, dulu bahkan ada sebuah batu yang berbentuk lesung dengan ukuran besar memanjang. Namun sayang, karena kurangnya kesadaran masyarakat sekitar, batu lesung dan beberapa batu berbentuk gong itu dihancurkan dan digunakan sebagai bahan pembangunan rumah warga.Mitos yang beredar, pada jaman dahulu saban malam Jumat legi, batu-batu berbentuk gong itu mengeluarkan suara alunan mirip gamelan yang kemudian dijadikan nama jalan kawasan itu, Jalan Watu Gong.

Rekomendasi