Ada ungkapan sejarah milik penguasa, ketika rezim orde baru tumbang pada 2008. Sejarawan beramai-ramai mengusik kembali kisah pemberontakan G30S/PKI, ketika Jenderal-Jenderal dibunuh dengan sadis dan dimasukkan ke sumur tua di Lubang Buaya.Hingga kini siapa dalang dan bagaimana pemberontakan itu berlangsung masih samar. Lalu bagaimana guru dan pemandu wisata di museum memberikan informasi sejarah?Royen Suryanto contohnya, pemandu museum AH Nasution ini bersikukuh menuding PKI berada di belakangnya. Hasilnya tentu saja semua pengunjung dijejali cerita versi orde lama dimana Kolonel Untung, D.N Aidit menjadi dalang pembunuhan para Jendral."Saya jelaskan benar dari PKI (sebab G30S/PKI) yang bertanggung jawab Letkol Untung dari PKI," ujar Royen mantap, Minggu (30/9).Menanggapi pernyataan Royen, ketua komunitas Historia Indonesia mengungkap adalah wajar punya persepsi sendiri terhadap sejarah Indonesia. Tak ada ukuran jelas dalam sejarah tentang kebenaran. Yang terpenting adalah tetap membuka diri dan memiliki rasa ingin tahu."Dari perspektif tidak salah. Selama punya bahan kita punya bacaan, masalahnya baca buku apa? Masih dimaklumi, justru itu bawa fakta baru atau bawa riset baru," jelas Asep Kambali kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (30/9).Seandainya dalam posisi sebagai guru pun, diharapkan mampu memberikan berbagai pemikiran ke murid-murid. Kemudian membiarkan murid tersebut menganalisa mana fakta sejarah yang dia temukan dan percayai."Kalau saya guru punya teknik tentu tidak akan kekeuh dengan perspektif di sini (museum). Guru sejati memberikan ke semua berbagai perspektif. Kita kasih pisau analisa, nanti dia bisa temukan fakta," tutupnya.
Guru harus biarkan murid berpikir kritis soal G30S
Tidak ada satu pun versi G30S yang dinilai benar 100 persen.
Rekomendasi