Mengenang AH Nasution, dari daun pepaya hingga drum air

Dalam malam berdarah yang bertepatan pada hari ini, tidak seperti jenderal yang lain, AH Nasution selamat.

Mustiana Lestari
Oleh Mustiana Lestari - Reporter
Mengenang AH Nasution, dari daun pepaya hingga drum air
AH Nasution. ©2012 Merdeka.com

Banyak yang luput jika kita hanya sekilas mengenal Jendral Besar Abdul Haris Nasution dari film propaganda G30S/PKI. Salah satunya tentang persembunyiannya ketika melarikan diri di malam berdarah pada 30 September 1965."Pak Nas lari naik tembok ke kedutaan Irak, di sana dia bersembunyi di tong tatakan air sampai pagi. Dia berusaha berjalan saat itu kakinya luka karena menginjak pot," ujar Royen Suryanto, pemandu museum AH Nasution, di Jalan Tengku Umar no 40, Jakarta, Minggu (30/9).Pagi menjelang, dari informasi yang diberikan, istri Nasution, Johana Sunarti, menyuruh Kolonel Hidayat, Komandan Paspampres untuk menjemput suaminya di Kedubes Irak."Mampir ke Kolonel Hidayat, kasih tahu Pak Nas ada di Kedutaan Irak. Kolonel Hidayat membawa dan menyembunyikan Pak Nas di bagasi mobil sampai ke markas Kostrad," terang Royen.Bukan hanya soal tempat persembunyian, ada juga fakta menarik yang dituturkan Royen selama pengunjung mengikuti diorama di Museum. Salah satunya tentang koran dan daun pepaya."Bapak kalau makan sederhana biasanya ada daun pepaya makanan khas Pak Nas. Dia juga jarang makan bersama ibu. Kalau sarapan ajudannya juga diminta membacakannya koran karena Pak Nas terlalu sibuk," pungkas Royen lagi.Dalam malam berdarah yang bertepatan pada hari ini, tidak seperti jenderal yang lain, AH Nasution selamat dengan melompat tembok yang berbatasan dengan kantor Kedubes Irak. Namun malam itu ajudannya, Pierre Tandean diculik dan buah hatinya turut tewas dengan luka tembak di punggungnya.

Rekomendasi