Kisah Wali Kota Risma marahi ABG teler

Untuk membersihkan Surabaya, Risma cukup memberi atensi terhadap kasus-kasus trafficking.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Kisah Wali Kota Risma marahi ABG teler
ABG terjaring razia Satpol PP. ©2012 Merdeka.com

Sebagai Kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya, Jawa Timur, tak jauh berbeda dengan kota-kota besar lain di seantero Tanah Air. Pusat-pusat tempat hiburan malam tumbuh subur di gemerlapnya kota. Bahkan, kota yang dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan itu memiliki kawasan prostitusi yang kabarnya terbesar di Asia, yaitu lokalisasi Dolly.Karenanya, Surabaya juga kerap dijadikan persinggahan pelaku-pelaku trafficking untuk mempekerjakan anak di bawah umur dari dalam maupun luar kota. Para korban trafficking dipekerjakan di tempat-tempat hiburan hanya sekadar untuk melayani pria hidung belang dengan keuntungan yang cukup lumayan.Bahkan, tak jarang pelaku-pelaku trafficking juga membujuk anak-anak sekolah dengan iming-iming barang-barang mewah seperti yang dimiliki anak-anak orang kaya. Hal ini terbukti, beberapa kasus trafficking yang berhasil diungkap Polrestabes maupun Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, rata-rata korbannya mengaku dari keluarga kurang mampu dan butuh uang untuk melunasi biaya sekolah."Rata-rata korban trafficking ini tergiur dengan iming-iming barang mewah yang ditawarkan pelaku. Kemudian mereka dipekerjakan untuk melayani lelaki hidung belang," terang Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti.Maraknya aksi trafficking yang terungkap di kota itu membuat Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, 'gerah'. Sejak dia menjabat sebagai orang nomor satu di Surabaya, 2010 lalu, Risma selalu aktif mendatangi kantor polisi hanya sekadar melontarkan amarahnya terhadap pelaku trafficking.Sebagai seorang wanita dan ibu, Risma tak segan memeluk dan memberi motivasi kepada korban trafficking untuk terus belajar dan tidak putus asa. Pemandangan ini terlihat setahun lalu, saat Polrestabes Surabaya mengungkap kasus trafficking.Dari data yang dilansir Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPTP2A), sejak Januari-April 2012, sudah ada 25 korban trafficking. Padahal angka ini adalah angka yang terdata, dan bisa saja kasus yang tak terdata masih jauh lebih besar.Untuk membersihkan Surabaya, Risma cukup memberi atensi terhadap kasus-kasus trafficking maupun membersihkan tempat-tempat hiburan malam yang disinyalir mempekerjakan anak di bawah umur. Setiap bulannya, sang wali kota memerintahkan Satpol PP untuk menggelar razia di tempat-tempat hiburan malam maupun lokalisasi.Gayung bersambut karena Pemprov Jawa Timur juga tengah berupaya menata Surabaya dengan melakukan pembinaan terhadap seluruh PSK yang ada di Jawa Timur. Sebagian di antara PSK itu sudah ada yang dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Pemprov Jawa Timur, menginginkan daerahnya bersih dari bisnis prostitusi.Upaya pemerintah membersihkan Surabaya dari bisnis prostitusi ini, dibuktikan dengan terus menggelar razia meski Ramadan telah berlalu. Kamis (30/8) dini hari kemarin, Satpol PP kembali merazia tempat hiburan malam. Hasilnya, 15 tempat hiburan malam ditutup karena tidak memiliki izin dan disinyalir mempekerjakan anak di bawah umur.Tak hanya itu, petugas juga mengamankan belasan anak baru gede (ABG) dari beberapa kota di luar Surabaya, seperti Malang, Sidoarjo dan Bojonegoro. Belasan ABG itu, diketahui tidak membawa identitas (KTP) dan terindikasi menggunakan narkoba dan minuman keras. Lagi-lagi, Risma melontarkan amarahnya kepada para ABG yang terjaring razia dan dibawa ke kantor Satpol PP di Jalan Jimerto itu. "Kamu jangan gaya-gayaan, kalian itu masih di bawah umur, pakai acara pergi ke diskotek segala, mau jadi apa kalian," kata Risma dengan emosi.Kemarahan Risma memuncak, ketika salah seorang ABG mengaku tindakannya itu karena broken home, kasus perceraian orang tua, sehingga alkohol dan narkoba menjadi solusinya."Masih banyak orang lain yang menderita, kalian itu jangan menyalahkan keadaan, baju kamu masih bagus, coba lihat di sekitar kalian," tambahnya.Selanjutnya, setelah dilakukan pendataan, orang tua para gadis ingusan itu dipanggil untuk menjemput anak-anak mereka. "Razia ini tidak hanya berhenti di sini, kami akan terus menggelar razia untuk membersihkan Kota Surabaya dari bisnis haram ini," tegas Irfan.

Rekomendasi