George Aditjondro sakit, aktivis Yogya galang dana

Infeksi paru-paru, diabetes, jantung, menyebabkan dokter sulit memprediksi progres kesembuhannya.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
George Aditjondro sakit, aktivis Yogya galang dana
George Junus Aditjondro. id.wikipedia.org

Aktivis George Junus Aditjondro terbaring sakit di RS Bethesda, Yogyakarta, sejak awal Juni lalu. Kini penulis buku 'Membongkar Gurita Cikeas' itu dirawat di ICU di RS swasta di Kota Gudeg itu."Katanya dokter tadi, tingkat kesadarannya sudah agak membaik," kata Erna Tenge, istri Aditjondro, saat dihubungi merdeka.com, Rabu (18/7).Sejak awal Juni, Aditjondro mengalami stroke akut dan langsung dibawa ke ICU. Dalam waktu begitu cepat, pria yang pernah dicekal rezim Soeharto ini menjalani operasi bedah guna mengeluarkan darah membeku di otak kecil. "Bapak sempat keluar dari ICU tapi cuma bertahan sehari," kata Erna dengan suara parau.Kondisi tubuh Aditjondro sulit untuk stabil. Infeksi paru-paru, diabetes, jantung, menyebabkan dokter sulit memprediksi progres kesembuhannya. Karena perawatan yang berlarut-larut tersebut keluarga Aditjondro kekurangan dana. Mendengar hal itu, sejumlah aktivis di Yogyakarta lantas melakukan penggalangan dana. Lewat blog riesalam.wordpress.com dan media sosial lainnya, para aktivis menggalang rupiah untuk mantan wartawan Tempo itu.Dalam blog itu disebutkan setiap pekan RS Bethesda mengeluarkan pemutakhiran rincian biaya perawatan Aditjondro. Hingga pekan ini seluruh biayanya sebesar Rp 201,067,200. Sementara ini keluarga baru membayar Rp 26,700,000. Total sisa yang harus dibayar Rp 174,367,200."Bapak butuh bantuan dana dan doa," ujar Erna.Kesehatan Aditjondro tak pernah stabil sejak menderita kencing manis. Dia diharuskan cek rutin, minum banyak obat atas petunjuk medis, dan tubuhnya cepat mengalami komplikasi. Dia juga diharuskan untuk lebih sering istirahat. Tubuhnya begitu sensitif hingga dokter, yang merawatnya tahun lalu di Jakarta, mengatakan Aditjondro mengalami metabolisme syndrome.Pada era Orde Baru, Aditjondro dikenal pengkritik keras pemerintahan Soeharto dalam hal korupsi dan kebijakan di Timor Timur. Karena aktivitasnya itu, dia terpaksa meninggalkan Indonesia ke Australia dari tahun 1995 hingga 2002. Buku karyanya yang terkenal adalah 'Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi dan Partai Penguasa.' Terakhir, buku 'Membongkar Gurita Cikeas' yang ia tulis sempat membuat kontroversi karena memicu perseteruan dengan politikus Demokrat, Ramadhan Pohan.

Rekomendasi