Kehidupan ekonomi Liem Sioe Liong, atau Sudomo Salim, mungkin tidak akan sehebat saat ini jika dulunya tidak bertemu dengan Hasan Din, Ayah Fatmawati, istri Presiden Soekarno.
Titik balik kehidupan pria kelahiran 16 Juni 1916 di Hok Chia, Hokkian, dimulai sewaktu Hasan Din, tokoh nasional yang menjadi incaran tentara Belanda, berhasil disembunyikan Liem di Kudus, Jawa Tengah.Dikutip dari Kisah Sukses Liem Sioe Liong karangan Eddy Soetriyono terbitan Indomedia, 1989, Liem adalah bagian dari organisasi Futsing Hwee, pemimpin organisasi mempercayakan seorang tokoh yang diburu Belanda agar dilindungi. Liem dipilih karena jujur, bisa menyimpan rahasia dan bisa dipercaya. Selama setahun, Liem membantu persembunyian Hasan Din. Liem sendiri tidak pernah tahu siapa orang yang dibantunya itu. Belakangan dia baru tahu kalau orang itu adalah Hasan Din, pimpinan Muhammadiyah yang juga mertua Bung Karno.
Dari perjumpaan dengan Hasan Din, Liem banyak berkenalan dengan tentara pejuang. Om Liem ikut membantu menyalurkan senjata, makanan, pakaian, dan obat-obatan untuk militer.Karena kedekatan dengan tentara itu, Liem akhirnya mengenal Soeharto yang waktu itu masih berpangkat Kolonel pada 1950-an. Perkenalan terjadi sewaktu Liem menyuplai cengkeh untuk pabrik rokok kretek di Semarang.
Banyak pihak percaya kedua tokoh ini saling berusaha menjaga keakraban, hingga akhirnya Soeharto naik tahta menjadi presiden pada 1967. Hal itu terbukti sewaktu Soeharto memberikan sebagian monopoli penggilingan dan distribusi gandum dan tepung pada PT Bogasari Flour Mills kepada Liem di akhir tahun 1969.
Liem sendiri selalu menolak tudingan bisnisnya berkembang, karena bantuan militer. Liem Sioe Liong meninggal dunia di Singapura (10/6). Pengusaha yang dikenal dengan nama Sudono Salim meninggal dunia di usia 96 tahun karena sakit. Liem merupakan pengusaha Indonesia, pendiri Grup Salim.