Budi (bukan nama sebenarnya, menjadi korban kebrutalan geng motor. Kini, siswa salah satu SMP Negeri di Bandung itu harus rela menggunakan mata palsu setelah mata kirinya hancur dipukuli.Akibat insiden ini, remaja 12 tahun itu harus melakukan perawatan rutin ke rumah sakit Mata Cicendo Bandung dan rujukan Klinik Protesa di Jakarta Selatan, secara rutin 3 bulan sekali.Satu tahun lebih sudah Budi menjalani hari-harinya dengan mata palsu, setelah peristiwa yang menimpanya pada November 2010 lalu. Ketika itu jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, Budi hendak pulang dengan berjalan kaki, namun nahas ketika beberapa meter sebelum sampai di rumah Budi dihampiri orang tak dikenal.Geng motor tersebut menanyakan identitas apakah Budi sebagai anggota Brigez? Pria kelahiran 1998 ini lantas menjawab "bukan." Budi yang yang ketika itu sendiri dikeroyok hingga matanya luka dan satu buah handphone berhasil dirampas.Melihat Budi terkapar, mobil yang melintas lalu menolongnya untuk diantarkan kerumahnya. Karena luka yang dideritanya, Budi pun dibawa ke Rumah Sakit Boromeous. Namun, kala itu pihak rumah sakit angkat tangan Budi pun dilarikan ke RS Mata Cicendo.Dengan perawatan intensif, pria yang hobi renang ini kembali dirujuk untuk melakukan operasi dengan pemasangan bola mata palsu di Klinik Protesa di Jakarta.Ibunda Budi, Lia Sari (40) menyatakan, kini anaknya tersebut sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan rasa dendam Budi pun tak punya."Budi sudah berbaur dan sudah tidak mau mengingat lagi," kata Lia, kepada Merdeka.com, Rabu (11/4).Sebagai orang tua, Lia masih menaruh rasa khawatir. Sementara ini, keseharian Budi lebih sering diantar jemput oleh bapaknya. Jarak rumah Budi yang berada di Jalan Kanayakan, memang tidak begitu jauh ke sekolahnya yang berada di Jalan Setiabudi, Bandung. Sekitar 6 kilometer atau sama dengan jarak tempuh 30 menit.Lia pun bersyukur buah hatinya bisa selamat dari ulah brutal kelompok itu. Meski kesedihan tetap dia rasakan karena sang putra tercinta harus menjalankan pemeriksaan dan penggantian bola mata 1,5 tahun sekali. Dalam sehari, mata Budi pun tidak boleh lupa untuk diteteskan obat mata."Kalau tidak nanti mata Budi keluar darah," tuturnya.Lia hanya berharap pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus yang menimpa anaknya tersebut. "Polisi sudah tiga kali datang ke rumah, tapi kalau nggak ada progres ya bagaimana," ungkapnya."Biarkan yang di atas yang membalas," tandasnya.Sementara Kabid Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, pihaknya berjanji selalu mengusut tuntas tindakan pelaku geng motor yang menjadi musuh masyarakat ini."Tindakan geng motor adalah tindakan yang merugikan masyarakat, kami pun selalu mengawal masyarakat agar tidak resah jika hendak keluar rumah, terlebih di malam hari," ujar Martius.Dia pun mengklaim sampai saat ini perkembangan Geng Motor di Jawa Barat justru sudah berkurang drastis. Itu karena upaya pendekatan yang dilakukan cukup berhasil."Tindakan preventif dari pihak kepolisian upaya sinergitas seperti tokoh, guru, dan orang tua sangat berperan besar untuk mengurangi upaya pelaku geng motor," terangnya.Karenanya ia berharap semakin ke sini tindakan geng motor bisa terus berkurang sehingga bisa menjadikan Bandung sebagai kota yang kondusif.
Kisah korban kebrutalan geng motor di Bandung
Satu tahun sudah Budi menjalani hari-harinya dengan mata palsu, setelah peristiwa yang menimpanya pada November 2010
Advertisement
Rekomendasi