Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sering sekali tidak di tempat ketika aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di ibu kota, Jakarta. Seperti Selasa (27/3) kemarin, saat ratusan mahasiswa, buruh maupun masyarakat memprotes kebijakannya yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), SBY bersama ibu negera sedang mengadakan lawatan ke luar negeri untuk menghadiri acara KTT Nuklir yang berlangsung di Korea Selatan.Menurut pengamat politik Charta Politika Arya Fernandes, dalam ilmu komunikasi politik, sikap SBY tersebut menunjukkan bahwa dirinya sedang khawatir dan tertekan atas kebijakan yang disadarinya akan mendatangkan protes."Bisa jadi itu strategi yang dipilih SBY karena dia tahu akan menjadi sasaran empuk dalam aksi unjuk rasa para demonstran," kata Arya saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (28/3).Selain itu, kepergian SBY kali ini menjadi bukti betapa dirinya sangat tertekan dan khawatir dengan kebijakan yang dia ambil. Apalagi saat semua kader Partai Demokrat berkumpul di Cikeas, SBY sempat mengucapkan kalimat bahwa presiden mana yang ingin menaikkan harga BBM."Dia semakin tertekan dengan kebijakan ini tentu kepuasan publik pada pemerintahannya terus menurun," tambahnya.Lalu apakah sikap SBY ini akan mempengaruhi pandangan masyarakat pada partai berlambang bintang mercy itu di tahun 2014 mendatang?"Bahwa ada penurunan citra itu pasti. Tapi saya rasa tidak signifikan karena Demokrat melakukan recovery citra melalui program BLTS itu," tegasnya.
Tak di Istana saat demo, SBY sadar jadi sasaran unjuk rasa
Tidak menutup kemungkinan pula, SBY sedang khawatir dan tertekan atas kebijakan menaikkan harga BBM.
Rekomendasi