Kabar buruk Syahrul dari seorang teman

Kabar yang ditunggu itu pun berbuah kabar buruk saat seorang tetangga lama mengabarkan Syahrul telah tiada.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Kabar buruk Syahrul dari seorang teman
Rumah sakit tempat korban luka mahasiswa IPB dirawat. merdeka.com/arbi sumandoyo

Telepon seluler Muchlis (49) dan Sulasmi (44) selama dua hari itu tak banyak berdering. Tidak ada pesan singkat dari si bungsu, Syahrul Isnaini (21), yang sedang menghadiri acara kampus di Bandung. Bagi pasangan suami istri itu, ini jelas tak biasa. Sebabnya, saban bepergian, putranya yang kuliah di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu selalu  memberi kabar."Biasanya dia selalu ngabari. Tapi kemarin nggak," kata Sulasmi kepada merdeka.com di rumah kerabatnya, Jalan Haji Kemang, RT 11 RW 1, Jakarta, Senin (26/3).

Menghadiri sebuah acara seminar di Kota Kembang, Syahrul pamit berangkat usai salat Jumat (23/3). Sejak kepergian itu, Sulasmi tidak pernah mendapat kabar dari Syahrul. Kabar yang ditunggu itu pun berbuah kabar buruk saat seorang tetangga lama di Jagakarsa mengabarkan Syahrul telah tiada. Syahrul meregang nyawa dalam kecelakaan bersama rombongan mahasiswa IPB di Jl Raya Bogor, Minggu (25/3)."Tetangga saya mendapat kabar dari teman Syahrul, yang tidak berani mengabarkan langsung ke saya," ujar dia.Sulasmi baru mendapat kabar putranya itu menjadi korban kecelakaan pada Minggu (25/3) sekitar pukul 10.00 Wib."Saya tanya kenapa jam tiga kok kami nggak dikabari? Jam tiga kan kecelakaannya. Katanya (pihak kampus) dia kejepit, jadi sulit dikeluarkan," keluhnya.Di mata orangtuanya, Syahrul merupakan anak yang baik. Pernah suatu waktu Sulasmi terbaring di rumah sakit selama dua pekan, dan semua biaya perawatan ditanggung oleh Syahrul. "Dia juga yang ngurusin saya selama di rumah sakit," ujar Sulamsi.Mungkin tidak diketahui oleh Sulasmi, uang untuk biaya pengobatan saat itu adalah hasil kerja serabutan Syarhul, termasuk menjadi sopir bagi acara temannya di kampus."Dulu orang tuanya sakit, makanya dia bekerja untuk membantu," kata Kepala Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB, Nurheni Wijayanto.Kini anak muda itu harus tiada karena sebuah kecelakaan maut. Toyota Avanza yang dikendarainya menabrak truk tronton yang sedang berhenti di bahu Jl Raya Bogor, Minggu (25/3) sekitar pukul 03.30 Wib. Syahrul diduga mengantuk.Tujuh rekan kampusnya mengalami luka-luka, dua orang di antaranya kini masih berada di High Care Unit Rumah Sakit Family Medical Center, Bogor.

Rekomendasi