Ray Rangkuti sebut elektabilitas Jokowi terganggu serangan isu komunis
Merdeka.com - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengatakan tingkat elektabilitas Joko Widodo jelang Pemilihan Presiden 2019 cenderung naik dengan lamban di angka 40-45 persen. Menurutnya, lambatnya kenaikan elektabilitas Jokowi karena imbas dari politik suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.
Jokowi, kata Ray, kerap diserang isu komunisme hingga terlalu mengistimewakan atau memiliki orientasi pada perekonomian China.
"Kenapa lambatnya elektabilitas Jokowi? Dugaan saya karena masih terkena imbas dari politik SARA," kata Ray di D Hotel, Jalan Sultan Agung, Setia Budi, Jakarta Selatan, Selasa (26/12).
Ray memprediksi penggunaan isu SARA tidak akan terhenti di Pilgub DKI Jakarta saja tetapi juga di Pilkada-pilkada lain di tahun 2018. Isu SARA, lanjut dia, banyak digunakan oleh kepentingan politik karena memiliki dampak yang signifikan untuk menghancurkan elektabilitas lawan politik, serta efek yang berkepanjangan.
Selain efek yang signifikan, menurutnya, isu SARA banyak dipakai karena muncul suasana yang melegalkan tindakan politik SARA. Kemudian, Ray menyebut tidak ada juga definisi politik SARA dalam UU Pemilu.
"Jadi SARA tidak bermasalah karena dianggap mengamalkan kepercayaan tertentu, ada kegamangan," ujarnya.
Ray melanjutkan faktor lainnya karena rendahnya sanksi pidana terhadap pelaku yang menyebarkan isu-isu SARA di ruang publik kepada masyarakat. Untuk itu, dia menegaskan masalah sanksi bagi pihak yang memakai isu SARA di Pemilu perlu dipertegas.
"Kalau UU Pemilu denda setahun, Rp 1 juta, sangat rendah kalau dibanding ITE. Kalau di UU ITE minimal sanksinya 5 tahun," tukasnya. (mdk/eko)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya