Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ratusan mahasiswa Papua gelar upacara bakar batu di lereng Merapi

Ratusan mahasiswa Papua gelar upacara bakar batu di lereng Merapi Mahasiswa Papua bakar batu di lereng Merapi. ©2015 Merdeka.com/kresna

Merdeka.com - Sore ini ada yang tidak biasa di dusun Sumberan, Candibinangun, Pakem, Sleman. Dukuh yang berada di lereng merapi tersebut mendadak diramaikan dengan 152 mahasiswa asal Papua. Mereka menggunakan pakaian tradisional menyusuri jalan desa mengumpulkan ranting-ranting kering, rumput-rumput liar dan batu-batuan.

Setelah dirasa cukup, mereka kemudian menyusun kayu-kayu, ranting-ranting dan meletakkan batu-batu diatasnya lalu membakarnya. Setelah api menyala, mereka mulai mendendangkan lagu-lagu daerah Papua sembari menari-nari. Sementara warga dusun menonton mereka, beberapa di antara mereka turut bergabung menari-nari.

mahasiswa papua bakar batu di lereng merapi

"Kami sebut ini bakar batu, ini upacara tradisi kami. Semacam pesta memasak. Kali ini kami ingin merayakan perpisahan dengan warga di sini setelah kami live in selama 16 hari," kata Aminus Kogoyo koordinator rombongan mahasiswa dari Stiper (Sekolah Tinggi Pertanian) Jaya Pura, Papua, Selasa (14/4).

Setelah api mulai meredup dan batu-batu sudah panas, mereka memindahkan batu-batu panas tersebut ke dalam lubang di tanah yang sudah dialasi alang-alang dan rerumputan. Dengan gesit mereka mengambil batu-batu panas dengan cara dijepit dengan bambu yang dibelah.

mahasiswa papua bakar batu di lereng merapi

Selanjutnya mereka menutup batu-batu tersebut dengan rumput-rumput liar, disusul dengan ubi-ubian, sayuran dan ayam potong yang sudah dibumbui, lalu ditutup lagi dengan rumput dan batu panas. Terakhir mereka kemudian menutupi semuanya dengan rumput liar hingga menggunung.

"Kalau bakar batu di Papua kami masak babi, tapi karena di Yogyakarta kami menyesuaikan, jadi kami ganti dengan ayam, supaya semua bisa makan," ujar Aminus.

Aminus menjelaskan upacara bakar batu ini merupakan bentuk rasa bahagia mereka karena selama 16 hari tinggal di rumah warga mereka diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Jika selama 16 hari mereka merasakan masakan warga yang khas Jawa, maka sebelum berpisah mereka ingin memberikan makanan yang dimasak dengan cara adat mereka sebagai bentuk rasa terima kasih.

mahasiswa papua bakar batu di lereng merapi

"Ini adalah penghormatan kami terhadap warga di sini, meski hanya singkat, tapi kami merasa menjadi bagian Yogyakarta," tandasnya.

Sementara Kepala Dukuh Sumberan, Haryono mengaku sangat terharu karena para mahasiswa Papua yang mau menggelar upacara bakar batu untuk warga. Dia tidak menyangka para mahasiswa Papua begitu senang meski hanya live in dengan kondisi seadanya.

"Saya begitu bangga bisa mengenal mereka, saya sudah anggap mereka saudara sendiri," ungkapnya.

mahasiswa papua bakar batu di lereng merapi

Setelah satu jam menunggu, mereka kemudian membuka tumpukan batu bakar dan mengambil ubi-ubian, sayuran dan ayam yang sudah masak. Para mahasiswa dan warga pun kemudian makan bersama-sama.

"Saya baru pertama kali makan masakan begini, saya pikir nggak matang, ternyata ya ayamnya matang, singkongnya juga empuk, enak ada harum khas daun pisang dan rumput," ujar Aryo salah seorang warga yang turut makan. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP