PWNU Jatim Anggap Persoalan Uigur Terkait Perang Dagang Amerika-China

Rabu, 26 Desember 2018 22:13 Reporter : Moch. Andriansyah
PWNU Jatim Anggap Persoalan Uigur Terkait Perang Dagang Amerika-China Konjen RRT jelaskan soal Uighur di PWNU Jatim. ©2018 Merdeka.com/Mochammad Andriansyah

Merdeka.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai, kekerasan terhadap warga muslim di Uighur, Provinsi Xinjiang, tak lepas dari isu perang dagang antara Amerika dengan China.

"Menurut kami enggak lepas dari perang dagang antara kapitalisme Amerika dengan China, dan seterusnya," ujar Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuqi Mustamar usai bertemu perwakilan Konjen RRT di Surabaya, Gu Jingqi di kantornya, Rabu (26/12) sore.

"Nah itu urusan mereka (Amerika-China), kita (muslim Indonesia) enggak usah ikut-ikutan ke sana (termakan isu kekerasan di Uighur)," sambung Kiai Marzuqi tanpa menjelaskan detai perang dagang seperti apa yang terjadi antara Amerika-China.

Namun jika Indonesia diminta memilih berpihak ke mana? Kia Marzuki menyebut, lebih pro ke China. "Dan, e.. kenapa China harus kita jaga, kalau kita, terkait dengan agama, misalnya, Islam di China itu lebih dekat dengan kondisi Islam di Indonesia," ungkapnya.

Islam di China, menurut Kiai Marzuqi, sama dengan muslim di Indonesia, yaitu Ahlussunah wal Jama'ah.

"Mereka pakai wirid, mereka, nyuwon sewu (maaf), pakai doa bareng, mereka terawih 20 (rakaat), mereka rata-rata Ahlussunah wal Jama'ah, dan jumlahnya lebih besar."

Sementara kalau Indonesia 'membuang' China dan lebih memilih Amerika, kata Kiai Marzuqi "Jumlah muslim di Amerika itu lebih kecil, itupun, mungkin, banyak Wahabinya juga. Ya, kita ingin menjaga dengan semuanya. Tapi kalaupun harus memilih, lebih baik memilih yang sama-sama Ahlussunah wal Jama'ah," lanjutnya.

Muslima di China Dilindungi Konstitusi

Seperti diketahui, isu kekerasan terhadap warga muslim di Uighur oleh Pemerintah China, memicu reaksi internasional, termasuk di Indonesia. Beberapa minggu terakhir, sejumlah Ormas Islam di Indonesia, bahkan menggelar aksi untuk mengutuk tindakan Pemerintah China di Uighur.

Dan Rabu hari ini, perwakilan Konjen RRT di Surabaya datang ke kantor PWNU Jawa Timur, untuk mengklarifikasi isu kekerasan di Uighur bukan karena Pemerintah China anti-Islam. Bahkan, umat beragama di Negeri Tirai Bambu yang beridiologi komunis, dilindungi oleh undang-undang.

"Tiongkok sama seperti dengan Indonesia, berbeda kebudayaannya, berbeda suku bangsa, berbeda agamanya, sekarang, e.. menurut konstitusi Tiongkok, setiap warga Tingkok bisa beragama, berhak beragama tau tidak beragama," kata perwakilan Konjen RRT di Surabaya, Gu Jingqi yang fasih berbahasa Indonesia.

Namun, lanjutnya, seperti halnya muslim di Indonesia, muslim di China juga banyak terpapar paham radikal, khususnya ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Nah, untuk meredam sejumlah aksi teror yang sudah ribuan kali dilakukan oleh para ekstremisme muslim di sejumlah daerah di China, pemerintah setempat perlu melakukan tindakan deradikalisasi secara masif.

"Pemerintah Tiongkok pun perlu melakukan tindakan deredikalisasi untuk meredam aksi-aksi ini, dalam Alquran (aksi teror) bukankah dilarang, betulkan pak kiai?," ucap Jingqi dan memperkuat argumennya dengan bertanya ke Kiai Marzuqi.

Marzuqi menilai, tak seharusnya isu Muslim Uighur diseret ke ranah politik. Dia pun menyarankan masyarakat untuk tak menanggapi aksi-aksi di Tanah Air yang mengkaitkan isu Uighur dengan politik dalam negeri.

"Dibiarkan saja, gak payu (tidak laku)! Kalau ditanggapi keenakan," ujarnya.

"Yang suka membesar-besarkan, ya itu (tanpa menyebut kelompoknya). Sudah, jangankan mereka (Jokowi-Ma'ruf), NU saja dibully, Gus Dur (KH Amdurrahman Wahid) juga dibully. Memang istiqomahnya begitulah, enggak usah (ditanggapi)," sambungnya.

Menurutnya, di moment politik jelang Pemilu 2019 seperti sekarang ini, isu apapun dibuat oleh kelompok tertentu untuk memenangkan jagonya masing-masing, meski mengorbankan Islam.

"Apapun mereka buat isu, apapun Mereka, nanti Kiai Ma'ruf mengucap apa, dibikin isu. Nanti kira-kira Kiai Marzuqi kencing, juga dibikin. Memang pekerjaanya membikin isu," tandasnya.

Apakah NU akan 'mengalir' saja dalam menyikapi isu-isu yang mendiskriditkan Islam? "Yo gak juga, kita kan bikin pengajian juga, dari pada menjawab (isu) medsos kekeselen (capek)," katanya.

Menurut Kiai Marzuqi, tindakan NU akan jauh lebih efektif jika bertemu langsung dengan massa melalui pengajian-pengajian yang digelar ribuan kiai di seluruh Indonesia.

"Mending pengajian langsung terangkan, pengajian langsung terangkan, langsung berhadapan dengan ribuan massa. Otomatis (memagari Nahdliyin dari jebakan-jebakan politik)," tegasnya lagi.

Pokoknya, Kiai Marzuqi menandaskan, NU ingin tetap menjaga hubungan baik dengan siapapun dan negara manapun. Termasuk dengan China dan Amerika Serikat. "Ada sekian juta muslim di Jawa, di Indonesia bekerja di perusahaan-perusahaan yang bosnya, ownernya juga China, baik China muslim maupun non-muslim, itu harus dijaga," katanya lagi.

"Ada hubungan ekspor-impor dengan China dalam jumlah besar, itu harus diamankan, dijaga. Indonesia sebagai negara muslim terbesar, berkewajiban menyebarkan Islam damai ke manapun, termasuk ke China, itu harus dijaga," sambungnya. [cob]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini