Pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang Tak Terbantahkan

Kamis, 10 Oktober 2019 04:32 Reporter : Irwanto
Pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang Tak Terbantahkan Jejak Kerajaan Sriwijaya di Palembang. ©2019 Merdeka.com/Irwanto

Merdeka.com - Dalam prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang mendirikan perkampungan yang dinamai Sriwijaya pada 16 Juni 682. Prasasti ini akhirnya menjadi akta kelahiran Kerajaan Sriwijaya.

Arkeolog Bambang Budi Utomo menyebut, perkembangan lokasi Palembang sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya lebih masuk akal dengan banyak faktor pertimbangan. Seperti jaringan komunikasi dan kegiatan lalu-lintas, tukar-menukar informasi dan bahan dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dahulu dan sudah berhasil mendorong manusia setempat untuk maju.

Lalu, lokasi Palembang di muara sungai-sungai Kramasan, Ogan, dan Komering, menjadikan Palembang sebagai pasar tempat memasarkan komoditi perdagangan dari daerah pedalaman. Lewat sungai-sungai itu komoditi perdagangan dibawa ke Palembang.

Dia mengatakan, setelah nama Sriwijaya muncul sebagai nama sebuah kerajaan maritim yang lahir dan berkembang pada abad ke-7 hingga 12 Masehi, banyak pakar sejarah dan arkeologi secara intensif melakukan penelitian di daerah-daerah yang diduga kuat merupakan bekas wilayahnya. Hasil penelitian para ilmuwan ini menyimpulkan bahwa wilayahnya terutama terletak di pantai timur Sumatera dan menguasai Selat Malaka.

"Pusat pemerintahan pada awalnya terletak di Palembang pada abad ke-7 sampai 10 Masehi. Kemudian berpindah ke daerah Jambi pada abad ke-12 Masehi," ujarnya.

Dikatakannya, sebagian sejarahwan dan purbakalawan menduga bahwa pusat Sriwijaya ada di Palembang dan sebagian lagi mensinyalir ada di Jambi. Pendapat serjana-sarjana ini tentu saja dianut oleh masyarakat setempat yang fanatik kedaerahan.

"Masing-masing ngotot, tapi pendapat mereka benar semua, tapi harus disebutkan kronologisnya. Sriwijaya berdiri di Palembang pada tanggal 16 Juni 682 hingga sekitar abad ke-10 lokasinya ada di Palembang dan setelah abad ke-10 sampai masa keruntuhannya abad ke-13 berada di Jambi," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Perkiraan Luas Kerajaan Sriwijaya

Sejauh ini, kata dia, belum diketahui pasti seberapa luas wilayah Sriwijaya. Namun berdasarkan peninggalan budayanya yang ditemukan di Palembang, bentuk, peruntukkan dan luas kotanya dapat direkonstruksi. Lokasi permukiman penduduk Kota Sriwijaya dengan indikatornya berupa pecahan-pecahan keramik dan tembikar, tiang-tiang kayu sisa rumah kolong, sisa industri, dan sisa barang-barang keperluan sehari-hari ditemukan di daerah yang rendah di sepanjang tepian sisi utara Musi.

Di tempat yang agak tinggi di Palembang, ditemukan sisa-sisa tempat kegiatan upacara keagamaan dengan indikatornya berupa sisa bangunan bata, arca batu dan logam, manik-manik kaca dan batu, dan barang-barang keperluan upacara religi. Sisa bangunan suci tampak mengelompok di beberapa tempat agak jauh dari tepian sungai Musi.

Selain itu, masyarakatnya telah mengenal stratifikasi sosial, telah mengadakan perdagangan jarak jauh, telah mengenal pencatatan atau administrasi, dan adanya bangunan fasilitas umum.

Berdasarkan Prasasti Talang Tuwo yang ditemukan di Talang Kelapa, Palembang, Dapunta Hyang juga merancang pembangunan taman dengan nama Taman Sriksetra pada tanggal 23 Maret 684 Masehi. Di dalam taman tersebut terdapat beragam jenis tanaman yang semuanya diperuntukkan bagi makhluk hidup.

"Pada sekitar abad ke-7 dan 8 Masehi, berdasarkan tinggalan budayanya, Sriwijaya dapat dikatakan sebuah kota," kata dia.

Sementara prasasti Telaga Batu merupakan bukti bahwa di Kota Sriwijaya tinggal para pejabat kerajaan, panglima tentara, para penegak hukum, saudagar, para tukang/pengrajin sampai dengan para tukang cuci kerajaan yang disumpah oleh Datu Sriwijaya.

Setelah Sriwijaya mengalami kemunduran dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Jambi pada abad ke-13 Masehi, beberapa abad kemudian (abad ke-15 Masehi) di Palembang terjadi masa kekosongan pemerintahan. Berbagai penguasa dari tempat lain menduduki Palembang, misalnya Majapahit pada abad ke-14 hingga 15 Masehi.

"Abad ke-15 Palembang diduduki oleh bajak laut Chen Zuyi dari Nanhai sampai akhirnya lahir Kerajaan Palembang-Islam (protektorat Mataram) dan terakhir Kesultanan Palembang Darussalam," tukasnya. [cob]

Baca juga:
Prasasti Talang Tuwo, Semangat Sriwijaya Jaga Keseimbangan Alam
Menelusuri Jejak Kerajaan Sriwijaya di Palembang
Polisi Sebut Penemuan Harta Karun Kerajaan Sriwijaya di OKI Hoaks
Gubernur Sumsel Minta Warga Tidak Jual Harta Karun ke Luar Negeri
Warga OKI Terus Buru Harta Karun, Alur Sejarah Sriwijaya Terancam Putus

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini