Protes Terdakwa Pembunuhan TKI Divonis Bebas, Warga NTT Bakar Boneka PM Malaysia

Senin, 6 Mei 2019 19:59 Reporter : Ananias Petrus
Protes Terdakwa Pembunuhan TKI Divonis Bebas, Warga NTT Bakar Boneka PM Malaysia Warga NTT demo tolak vonis bebas terdakwa pembunuhan WNI. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Massa yang tergabung dalam Aksi Rakyat Indonesia Menggugat membakar boneka Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad di depan kantor gubernur Nusa Tenggara Timur, Senin (6/4). Sebelum dibakar, boneka Mahathir Mohammad diarak dari Mapolda hingga kantor gubernur, lalu disirami dengan bunga rampe.

Aksi tersebut sebagai protes karena pengadilan Penang Malaysia menjatuhkan vonis bebas terhadap Ambika Shan, majikan yang menyiksa Adelina Sau tenaga kerja Indonesia asal NTT hingga tewas.

Massa aksi meminta Perdana Menteri Mahatir Mohammad memberikan perhatian lebih terhadap proses peradilan Adelina Sau. Mereka juga menuntut agar pemerintah Indonesia segera mendorong banding terhadap kasus ini, yang dibatasi waktu hanya 14 hari setelah putusan vonis bebas pada 19 April lalu.

Menurut aktivis kemanusiaan Elcid Li, seharusnya saksi-saksi kunci dipanggil pengadilan tinggi Penang sebelum putusan vonis bebas Ambika Shan.

"Saksi-saksi kunci seharusnya dipanggil, ini tidak dipanggil di pengadilan Penang sehingga putusan itu dilakukan tanpa pemanggilan saksi saksi kunci. Seharusnya komjen yang ada di Penang sana harus lebih aktif memantau kasus ini, maupun duta besar RI yang ada di Malaysia. Sehingga kasus ini tidak dibiarkan, karena bukti-bukti visual itu kan kuat video di mana Adelina diambil gambar di depan rumah majikannya itu kan cukup miris, tapi kenapa itu belum cukup bukti," protes Elcid.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Yosef Nae Soi yang menemui massa mengaku, Pemprov NTT telah mengusulkan kepada direktur perlindungan penempatan tenaga kerja Indonesia, agar mengupayakan langka banding hukum internasional terhadap vonis bebas pengadilan Penang Malaysia, kepada majikan Adelina Sau.

"Yang pertama saya mengusulkan pada direktur pada saat itu, kalau seandainya kita tidak bisa mengintervensi dan memang tidak boleh mengintervensi pengadilan di Malaysia, tetapi ada satu celah di dalam hukum Internasional yang namanya bif watching. Oleh sebab itu saya sudah minta kepada atase di sana, supaya yang pertama mengusahakan ada bif watching terhadap tidak ada ketidakadilan pengadilan tinggi Penang," ujarnya.

Yosef juga menambahkan, jika seandainya bif watching itu tidak bisa, maka ia meminta agar menggunakan hukum internasional mengenai human trafficking, sebab hal itu bisa menuntut kepada majikan Adelina Sau dengan hukuman 20 tahun penjara.

"Itu yang harus kita lakukan, karena kita biar teriak-teriak di sini juga orang tidak pusing dengan kita," tuturnya.

Adelina dinyatakan meninggal dunia di Malaysia karena disiksa pada Februari 2018. Sebelum dilaporkan meninggal, korban sempat disiksa majikan dan disuruh tidur bersama anjing peliharaan. [cob]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini