Protes Pemilu, Massa Geruduk Bawaslu Sumut Teriakkan 'Revolusi'

Rabu, 22 Mei 2019 15:36 Reporter : Yan Muhardiansyah
Protes Pemilu, Massa Geruduk Bawaslu Sumut Teriakkan 'Revolusi' Massa Geruduk Bawaslu Sumut. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Aksi massa memprotes kecurangan Pemilu 2019 juga terjadi di Kota Medan. Lebih dari 1.000 orang berunjuk rasa di sekitar kantor Bawaslu Sumut, Jalan H Adam Malik, Medan, Rabu (22/5).

Massa mulai berkumpul di sekitar Bundaran Adipura, Jalan H Adam Malik, Medan, kira-kira pukul 13.00 Wib. Massa terus berdatangan. Sekitar pukul 14.00 Wib ratusan orang mengenakan jaket almamater hijau tiba di lokasi.

Mereka meneriakkan "Revolusi..Revolusi".

Sebagian di antara massa datang membawa tongkat bambu. Terlihat pula pengunjuk rasa yang telah mengoleskan odol gigi di bawah matanya.

Tak lama berselang mobil komando tiba di lokasi. Satu per satu orator berpidato, dimulai dari Bunda Roni Sasmita Siregar dan Ketua GNPF Ulama Sumut, Heriansyah.

"Mari kita berdoa," ajak Bunda Roni.

Massa di bagian depan duduk di atas terpal yang dibentangkan di depan kawat berduri. Sementara pengunjuk rasa di bagian belakang memilih berdiri. Massa berulang kali meneriakkan yel-yel menuntut netralitas Polri. Mereka juga memuja-muji TNI.

Polisi memang membatasi pengunjuk rasa. Kawat duri dipasang dekat bundaran Adipura dan di depan showroom Datsun. Massa terpisah di sisi kiri dan kanan kantor Bawaslu Sumut.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal, Tito Karnavian, belum memberikan keterangan pasti soal korban tewas dalam kericuhan dini hari tadi. Dia hanya mendapat informasi ada korban tewas karena terkena senjata api dan senjata tumpul. Tito merasa perlunya melihat lebih jernih soal korban tewas dalam peristiwa ini.

"Harus kita clearkan di mana dan apa sebabnya. Ingat ada kelompok yang bermain. Ada upaya memprovokasi dan setting itu. Dengan menciptakan martir, lalu menyalahkan aparat, membangun kemarahan publik," kata Kapolri saat konferensi pers bersama di kantor Menko Polhukam.

Dia menerangkan, ada dua peristiwa yang berbeda dari kejadian semalam. Pertama, peristiwa aksi damai di depan Bawaslu. Kedua, peristiwa kericuhan yang dipicu tindakan anarkis di kawasan Petamburan sehingga berdampak korban tewas. Peristiwa pertama diapresiasi Polri. Sedangkan peristiwa kedua murni tindakan pelanggaran hukum.

"Penanganan aksi unjuk rasa dilakukan cara damai oleh orang-orang yang kita lihat bisa diajak bicara, kooperatif. selesai jam 9 yg dtg bukan pengunjuk rasa. anarkis, menyerang. Mereka sudah rusuh menciptakan kerusuhan dan kejahatan, kriminal. Menyerang petugas, membakar."

"Ini beda. Jangan sampai publik kemudian di framing berpandangan bahwa isu berkembang ada aksi damai, yang kemudian dibubarkan dan langkah represif oleh polisi dibantu aparat TNI. Ini dua segmen berbeda. Segmen pertama aksi damai diakomodir dan selesai baik bahkan sama-sama salat petugas dan peserta aksi. Kedua adalah aksi anarkis oleh kelompok orang menyerang. sengaja ciptakan kerusuhan." [lia]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini