Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Program Jatim Nomic dinilai perlu dipertahankan

Program Jatim Nomic dinilai perlu dipertahankan Pakar Komunikasi Politik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Jupriono. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi andalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Pemprov ingin program ini bisa mengangkat perekonomian masyarakat dan mengurangi pengangguran di Jatim.

"Jatim Nomic program yang sangat bagus. Program Gubernur Soekarwo (Pakde Karwo) dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) harus dipertahankan,” kata Pakar Komunikasi Politik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Jupriono.

Jupriono mengatakan, sebenarnya program-program yang dimiliki pemprov sangat banyak dan bagus. Program tersebut patut untuk dipertahankan, namun Jatim Nomic memiliki nilai tersendiri. Jatim Nomic akan membuat pengangguran berkurang karena akan tercipta pekerjaan. Keberadaan UMKM secara otomatis menciptakan pekerjaan dan mengurangi pengangguran.

"Jatim Nomic kan pemberdayaan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk UMKM. Di sini akan tercipta banyak lapangan pekerjaan. Jika banyak masyarakat yang berusaha, pengangguran kan terkurangi,” ujarnya.

Pemilihan UMKM sebagai sasaran utama belanja APBD Jatim, lanjut dia, karena Pakde dan Gus Ipul melihat pengangguran akan bertambah di tengah tantangan ekonomi yang makin berat. Apalagi, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan. Hal tersebut dinilainya memberatkan pelaku usaha skala kecil, yang mendominasi lebih dari 90% perekonomian daerah Jatim.

Jupri menegaskan, banyak hasil yang dimiliki atas program Jatim Nomic. Pendapatan pemprov menjadi surplus dari tahun ke tahun. Tercatat hanya tahun 2015 neraca perdagangan minus, selebihnya selalu surplus. Bahkan pada tahun 2014 surplus perdagangan mencapai US 32 juta dolar. Sementara pada tahun 2016 lalu keuntungan Jawa Timur dari perdagangan meningkat, salah satunya dengan Turki yang mencapai US 22 juta dolar.

Komoditas utama ekspor ke Turki di antaranya minyak nabati, karet atau barang dari karet, bahan kimia organik, kayu atau barang dari kayu, kakao, kapas, karton dan sabun.

"Hasilnya kan bisa dilihat. Jadi tidak ada alasan tidak mempertahankan program ini," katanya.

Meski demikian, dosen Untag ini menilai, sistem penerapan Jatim Nomic ini tidak bisa disamaratakan antar daerah. Menurut dia, daerah-daerah memiliki cara berbeda sesuai kultur yang dimiliki. Dengan begitu, daerah bisa berinovasi dengan potensi-potensi yang dimiliki masing-masing.

Kebebasan itu bisa terlihat dengan munculnya pimpinan daerah dengan inovasi. Misalnya, Bupati Banyuwangi, Wali Kota Surabaya, Bupati Lumajang dan Bupati Bojonegoro. Mereka bisa membangun daerah masing-masing karena diberi kebebasan Pakde Karwo dan Gus Ipul. Kebebasan inilah yang mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing.

“Kebebasan untuk mengelola sumber daya alam membuat daerah menjadi lebih maju,” katanya.

(mdk/paw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP