Letjen TNI Novi Helmy Prasetya mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama Perum Bulog dan memilih kembali berdinas aktif di lingkungan TNI. Keputusan ini menuai sorotan karena masa jabatannya di Bulog terbilang singkat, hanya sekitar lima bulan.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi mengatakan, pihaknya menyambut baik kembalinya Novi Helmy. Dia menyebut, penempatan Novi Helmy sebagai Direktur Utama Perum Bulog berdasarkan permintaan dari pihak BUMN.
Permintaan BUMN tersebut membuat Novi Helmy harus mengundurkan diri dari TNI karena jabatan Direktur Bulog tidak ada dalam 14 jabatan yang boleh ditempati perwira TNI aktif sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, Pasal 47.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto pun memutuskan Novi Helmy untuk di 'non job' kan dengan ditempatkan sebagai Staf Khusus TNI setelah sebelumnya Novi menjabat sebagai Danjen Akademi TNI. Novi Helmy di 'non job' dalam rangka persiapan menuju pengunduran dirinya sebagai anggota TNI.
Namun belum sempat proses pengunduran diri rampung, Novi Helmy malah menyatakan ingin kembali mengabdi sebagai anggota TNI.
"Dalam proses tersebut, Letjen TNI Novi Helmy memutuskan untuk tetap melanjutkan pengabdiannya di lingkungan TNI," kata Kristomei, Jumat (4/7), dikutip dari Antara.
Setelah Novi Helmy menyatakan ingin kembali ke TNI, Agus Subiyanto langsung bersurat ke Menteri BUMN per tanggal 5 Juni 2025 untuk meminta persetujuan menarik Novi Helmy Prasetya dari penugasan di Perum Bulog.
Profil Letjen Novi Helmy
Letjen TNI Novi Helmy Prasetya adalah perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang dikenal dengan rekam jejak kepemimpinan di bidang intelijen, teritorial, dan logistik. Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1993 ini berasal dari kecabangan Infanteri, khususnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Novi Helmy memulai karier militernya sebagai Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 125/Simbisa dan Yonif 100/Prajurit Setia. Pengalaman ini memberinya dasar kepemimpinan yang kuat di medan operasi. Selanjutnya, dia menjabat sebagai Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) di Kopassus, posisi yang menuntut kemampuan analisis strategis dan ketelitian tinggi.
Kariernya terus menanjak dengan menjabat sebagai Komandan Grup D Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada 2013–2015, bertanggung jawab atas pengamanan tamu negara dan pejabat penting. Dia kemudian menjadi Komandan Korem 061/Suryakancana (2019–2020), memimpin komando militer di wilayah Bogor dan sekitarnya. Pengalaman ini memperkuat kemampuannya dalam manajemen organisasi dan sumber daya manusia.
Selanjutnya, Novi Helmy menjabat sebagai Asisten Personel di Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kogabwilhan III) pada 2019–2021, fokus pada pengelolaan personel dan sumber daya manusia. Dia juga pernah menjadi Kepala Staf Garnisun Tetap I/Jakarta (2021–2022), memastikan keamanan di wilayah Jakarta.
Pada 2023–2024, Novi Helmy dipercaya sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda di Aceh, bertanggung jawab atas stabilitas keamanan dan pembangunan di wilayah tersebut. Kemudian, dia menjabat sebagai Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI pada 2024–2025, berperan dalam pembinaan teritorial dan hubungan dengan masyarakat.
Pada Februari 2025, Letjen TNI Novi Helmy Prasetya mendapatkan amanah baru sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Namun, masa jabatannya di Bulog terbilang singkat. Pada tanggal 30 Juni 2025, Menteri BUMN Erick Thohir memberhentikannya dari jabatan tersebut.
Pendidikan dan Harta Kekayaan
Selain memiliki karier militer yang cemerlang, Letjen TNI Novi Helmy Prasetya juga memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Jenderal TNI bintang tiga ini meraih gelar Sarjana Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) dan Magister Ilmu Pemerintahan. Pendidikan ini membekalinya dengan pengetahuan dan wawasan yang luas dalam berbagai bidang.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2023, Letjen Novi Helmy tercatat memiliki total harta kekayaan sebesar Rp6,84 miliar.
Aset tersebut didominasi oleh tanah dan bangunan senilai Rp6,08 miliar, tersebar di berbagai daerah seperti Bangkalan, Bogor, Depok, dan Serang. Dia juga memiliki kendaraan, harta bergerak lainnya, serta kas dan setara kas.
Advertisement