Prapanca Yakin Larangan Suporter Tandang Bakal Dicabut, Ini Alasan di Balik Harapan Direktur Persija

Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, optimis larangan suporter tandang akan dicabut PSSI dan I.League. Namun, ada catatan buruk yang perlu diperbaiki suporter. Mengapa Prapanca begitu yakin?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Prapanca Yakin Larangan Suporter Tandang Bakal Dicabut, Ini Alasan di Balik Harapan Direktur Persija
Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, optimis larangan suporter tandang akan dicabut PSSI dan I.League. Namun, ada catatan buruk yang perlu diperbaiki suporter. Mengapa Prapanca begitu yakin? (Merdeka.com)

Mohamad Prapanca, Direktur Persija Jakarta, menyatakan keyakinannya bahwa larangan suporter tim tamu atau tandang akan dicabut oleh PSSI dan operator BRI Super League, PT I.League. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Ngopi bareng Persija yang berlangsung di Persija Cafe, Jakarta, pada hari Kamis. Ia melihat adanya potensi perubahan kebijakan seiring berjalannya waktu dan upaya perbaikan dari pihak suporter.

Keyakinan Prapanca muncul meskipun terdapat catatan buruk yang kerap terjadi saat suporter tim tamu diizinkan hadir dalam pertandingan Liga Indonesia sebelumnya. Insiden keributan dan pelanggaran peraturan menjadi alasan utama diberlakukannya larangan ini sejak tragedi Kanjuruhan pada tahun 2022. Namun, Prapanca percaya bahwa suporter dapat menunjukkan kedewasaan dan kedamaian.

Harapan pencabutan larangan ini juga didasari oleh keinginan untuk menciptakan atmosfer sepak bola yang ideal, di mana kehadiran suporter tandang dapat menambah semarak pertandingan. Prapanca menekankan pentingnya kontribusi suporter, baik dalam menjaga ketertiban maupun memberikan dukungan finansial melalui pembelian tiket. Ia berharap suporter dapat membuktikan diri sebagai bagian integral dari kemajuan sepak bola nasional.

Prapanca mengakui bahwa idealnya, setiap pertandingan selalu dihadiri oleh penonton tim tamu, sebagaimana lazimnya di dunia sepak bola internasional. Namun, ia menyadari realitas di Indonesia yang kerap diwarnai keributan setiap kali suporter tim tamu hadir. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi federasi dan operator liga dalam menerapkan kebijakan larangan suporter tandang.

“Idealnya selalu ada penonton tim tamu, mau di mana pun di dunia, tapi karena kita Indonesia nih, Liga Indonesia, berkali-kali setiap datang penonton tim tamu itu pasti ada keributan,” kata Prapanca. Pernyataan ini menunjukkan dilema antara keinginan ideal dan kondisi lapangan yang ada. Oleh karena itu, edukasi dan pembuktian diri dari suporter menjadi kunci utama untuk perubahan kebijakan larangan suporter tandang.

Prapanca secara khusus berpesan kepada Jakmania, kelompok suporter Persija, untuk menunjukkan sikap damai saat menonton pertandingan tandang. Ia berharap Jakmania dapat menjadi contoh bahwa suporter dapat menikmati sepak bola tanpa menimbulkan masalah. Hal ini juga penting untuk memberikan kontribusi positif kepada tim tuan rumah melalui pembelian tiket yang sah.

Pada musim ini, operator liga, I.League, masih memberlakukan larangan suporter untuk mendampingi tim kesayangannya pada laga-laga tandang. Aturan ini telah berlaku sejak tragedi Kanjuruhan pada tahun 2022, yang menjadi titik balik kebijakan keamanan suporter di Indonesia. Tujuannya adalah meminimalisir potensi konflik dan kerusuhan akibat kehadiran suporter tandang.

Meskipun ada larangan, peraturan ini berkali-kali dilanggar oleh berbagai kelompok suporter, termasuk saat Persija melakukan pertandingan tandang. Contohnya, saat melawan Persis Solo pada 16 Agustus, ratusan penggemar Persija tetap hadir di Stadion Manahan, Surakarta. Pelanggaran ini berujung pada sanksi bagi klub.

Akibat pelanggaran tersebut, Komite Disiplin PSSI menjatuhkan denda sebesar Rp 25 juta kepada Persija Jakarta. Pelanggaran aturan ini tidak hanya merugikan tim suporter yang melanggar, tetapi juga tim tuan rumah dan tim tamu yang dijatuhi denda. Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari ketidakpatuhan terhadap kebijakan larangan suporter tandang.

Prapanca memberikan apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan oleh Jakmania untuk menampilkan diri sebagai suporter yang baik, baik dalam pertandingan kandang maupun tandang. Ia melihat adanya perubahan positif dalam perilaku Jakmania, yang semakin menunjukkan kedewasaan dan komitmen untuk menjaga ketertiban, mendukung harapan pencabutan larangan suporter tandang.

Jakmania membuktikan untuk tidak melakukan keributan, perkelahian atau perusakan,” ujar Prapanca. Ia menambahkan bahwa perubahan ini adalah hasil dari proses edukasi yang berkelanjutan, meskipun tidak dapat terjadi secara instan. Proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran dari semua pihak terkait untuk mencapai tujuan tersebut.

Prapanca optimis bahwa jika suporter terus membuktikan diri, federasi secara bertahap akan mulai mengizinkan kehadiran suporter tandang. Ia mengusulkan kemungkinan pembatasan jumlah tiket awal, misalnya 500 atau 1.000 tiket, sebagai langkah uji coba. Pembuktian dari suporter akan menjadi faktor penentu bagi federasi untuk memberikan lampu hijau pada kebijakan larangan suporter tandang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi